SEJARAH UTSMANI

Dikutip dari buku yang berjudul:
"Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah"

Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi

SULTAN MUHAMMAD AL-FATIH (1451-1481)

Dia adalah Sultan Muhammad II, merupakan sultan Utsmani ketujuh dalam silsilah keturunan keluarga Utsman. Muhammad digelari Al-Fatih dan Abu Al-Khairat. Dia memerintah hampir tiga puluh tahun yang diwarnai dengan kebaikan dan kemuliaan bagi kaum muslimin.1 Dia memangku kesultanan Utsmani setelah ayahnya wafat tanggal 16 Muharram 855 H, bertepatan dengan tanggal 18 Februari 1451 M. Waktu itu umurnya baru menjelang 22 tahun.

Sultan Muhammad sendiri memiliki kepribadian yang komplit. Sebuah kepribadian yang menggabungkan antara kekuatan dan keadilan. Saat mudanya dia telah banyak mengungguli teman-teman seangkatannya dalam menyerap dan menangkap ilmu pengetahuan. Dia banyak menuntut ilmu di sekolah untuk anak pejabat. Dia memiliki pengetahuan yang luas, khususnya dalam bahasa yang ada saat itu dan pada saat yang sama memiliki kecenderungan yang besar terhadap buku-buku sejarah. Ini semua menambah kemantapan keprbadiannya dalam masalah manajemen dan administrasi negara, serta penguasaan medan dan strategi perang. Maka tak aneh, bila dikemudian hari dia menjadi sosok yang demikian terkenal didalam sejarah. Berkat keberhasilan menaklukkan Konstantinople ia dijuluki Al-Fatih (arti sebenarnya dari kalimat ini adalah “pembuka” namun yang lebih tepat diartikan sebagai “Sang Penakluk”,- Penj .).

Dia menempuh kebijakan yang diwariskan ayah dan kakeknya dalam hal ekspansi Islam. Setelah menjadi sultan, dia sangat menonjol dalam hal restrukturisasi administrasi dan manajemen negara di berbagai segi. Dia begitu perhatian dengan masalah keuangan negara dan bagaimana cara pembelanjaan yang efektif dan efisien sehingga bisa mencegah terjadinya pemborosan dan pembobolan uang negara. Dia juga berkonsentrasi untuk meningkatkan kepiawaian pasukannya, serta merestrukturisasi tentara dengan cara melakukan pengabsenan khusus pada pasukannya. Dia juga memberikan tambahan gaji pada mereka dan melengkapi dengan persenjataan terbaik dizamannya.

Selain itu dia melakukan resuffle para pejabat penyelenggara pemerintahan di beberapa wilayah. Sebagian diantara mereka ada yang tetap dikokohkan pada posisinya, dan sebagian yang lain yang tampak tidak serius menangani pemerintahan segera diturunkan. Dia telah melakukan peningkatan bidang administrasi didalam pemerintahan Turki Utsmani, dengan memberi banyak pengalaman manajemen negara dan militer yang baik yang telah banyak membantu menjadikan negara dalam keadaan stabil dan maju.

Tatkala dirasa konsolidasi internal tercapai, Sultan Muhammad Al-Fatih mulai melirik wilayah-wilayah yang berada dibawah kekuasaan Kristen di Eropa, dengan tujuan untuk melakukan ekspansi kekuasaannya dan menyebarkan Islam disana. Banyak faktor yang membuat keinginannya ini terealisir dengan baik. Diantanya, adalah lemahnya kekaisaran Byzantium akibat adanya konflik dengan negara-negara Eropa yang lain. Demikian pula, akibat adanya konflik internal yang merambah kehampir seluruh wilayah yang ada di Eropa. Sultan Muhammad Al-Fatih tidak hanya mencukupkan diri dengan dua kelemahan tersebut, namun dia berpikir dan berusaha serius agar berhasil meraih kemenangan dengan menaklukan Konstantinople, pusat pemerintahan kekaisaran Byzantium dan merupakan pusat strategi paling penting yang dijadikan tempat bergerak pihak Kristen untuk melakukan serangan terhadap dunia Islam dalam rentang beberapa tahun lamanya. Kota ini menjadi kebanggaan kekaisaran Byzantium secara khusus dan orang-orang Kristen umumnya. Kini dia berusaha untuk menjadikan pusat kekuasaan Byzantium tersebut, sebagai ibu kota pemerintahan Islam. Selain itu, ia berusaha merealisasikan apa yang sebelumnya belum bisa dicapai para pendahulu dan para jenderal pasukan Islam.2




Catatan Kaki

1.
Lihat: Al-Utsmaniyun fi-Al-Tarikh wa Al-Hadharah , hlm. 253.
2. Lihat: Qiyamu Al-Dawlat Al-Utsmaniyah , hlm 43.

<<Home