SEJARAH UTSMANI

Dikutip dari buku yang berjudul:
"Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah"

Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi

UTSMAN PELETAK DASAR KEKHALIFAHAN UTSMANI

Pada tahun 1267 M, Utsman anak Urtughril lahir. Utsman inilah yang kemudian menjadi nisbat ( icon ) kekuasaan Khilafah Utsmaniyah. Tahun kelahirannya bersamaan dengan serbuan pasukan Mongolia dibawah pimpinan Hulaku yang menyerbu ibu kota Khilafah Abbasiyah. Penyerbuan ini merupakan peristiwa yang sangat mengenaskan dalam sejarah, karena korban sedemikian banyak.

Tentang kejamnya serbuan Mongolia tersebut, Ibnu Katsir menjelaskan, “Mereka datang menyerbu Baghdad, membunuh siapa saja yang dapat mereka bunuh, baik laki-laki maupun perempuan, anak-anak, maupun orang tua yang bersembunyi beberapa di dalam sumur, tempat-tempat binatang buas, tempat-tempat kotor, atau sama sekali tidak berani keluar rumah. Ada sebagian orang yang berusaha bersembunyi di dalam toko-toko lalu mereka menutup pintu. Namun pasukan Mongol membuka pintu secara paksa, baik dengan cara mendobrak ataupun membakar. Kemudian mereka memasuki toko-toko itu dan menyeret orang-orang yang bersembunyi tadi ke atas wuwungan rumah, lalu dibunuh diatas sama sehingga darah mengalir demikian derasnya. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Roji'un . Demikian pula orang-orang yang bersembunyi didalam masjid, tempat-tempat pertemuan, semuanya dibunuh. Tak ada yang selamat, kecuali mereka yang berasal dari kalangan Ahli Dzimmah, yaitu Yahudi dan orang-orang Kristen serta orang-orang yang meminta perlindungan pada mereka.1

Peristiwa ini sungguh menjadi peristiwa yang demikian mengerikan dan mengenaskan. Kondisi umat Islam saat itu sedang dilanda krisis, akibat lumuran dosa dan maksiat. Mereka lemah, takut mati, dan cinta dunia. Oleh sebab itu lah mereka dikuasai bangsa Mongol yang melecehkan kehormatan umat Islam, menumpahkan darah kaum Muslimin, membunuh jiwa-jiwa tak berdosa, merampas semua kekayaan umat dan menghancurkan tempat tinggal kaum Muslimin.

Pada situasi yang mencekam dan sangat kritis ini, serta dalam kondisi umat yang dilandasi rasa takut mati dan cinta dunia, lahirlah Utsman, peletak dasar Khilafah Utsmaniyah. Disini ada satu hal yang patut kita cermati dan perhatikan, dimana umat Islam telah memulai sebuah kebangkitan baru saat ia berada di puncak kelemahan dan kehancurannya. Inilah titik tolak kebangkitan dan kemenangan. Sungguh sebuah hikmah Alloh, kehendak dan kemauan-Nya yang tidak bisa ditolak oleh siapa saja.

Allah berfirman,
“Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir'aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan” . (Al-Qashash 28:4)

Dalam lanjutan ayat ini Allah berfirman,
“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi) . dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu” . (QS Al Qashash 28:5-6)

Sama sekali tidak ada keraguan, bahwa Allah mampu memenangkan hamba-Nya dalam sekejap mata saja. Sebagaimana yang Allah firmankan,

“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: "kun (jadilah)", maka jadilah ia”. (QS An-Nahl:40)

Maka tidak sewajarnya orang-orang yang berada di jalan yang benar, bersikap terburu-buru untuk mendapatkan pertolongan dan kemenangan yang dijanjikan. Mereka harus memperhatikan sunnah-sunnah Syar'iyah dan sunnah kauniyah, selain harus bersabar dalam menjalankan agama Allah, sebab Allah berfirman.

“Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain” (QS Muhmamad 4)

Sedangkan Allah SWT jika menghendaki sesuatu pasti Dia akan menyediakan sebab-sebabnya, akan mendatangkannya secara berangsur-angsur dan bukan dengan sekaligus.

Kisah entitas Khilafah Utsmaniyah bermula dari munculnya sosok pemimpin bernama Utsman, yang lahir pada saat kehancuran Khilafah Abbasiyah di Baghdad.

Beberapa Sifat Kepemimpinan Utsman I

Jika kita memperhatikan dengan seksama riwayat hidup Utsman I, tampak sifat-sifat kepribadianya sebagai komandan perang dan seorang politikus. Beberapa sifat yang menonjol darinya adalah sebagai berikut:
  1. Pemberani . Tatkala pemimpin-pemimpin Kristen Byzantium melakukan pertemuan di Burshah, Madanus, Adrahnus, Katah, dan Kastalah pada tahun 1301 M, dalam rangka menyatukan langkah dan membentuk aliansi Salib untuk memerangi Utsman bin Urtughril, peletak dasar Khilafah Utsmaniyah, semua orang Kristen merespon positif seruan itu dan mereka bersatu untuk menghancurkan negara yang baru berdiri tersebut. Utsman dengan pasukannya datang menyongsong pasukan Salib, dia pun terjun langsung ke medan perang. Dia berhasil menghancurkan pasukan Romawi. Dalam peperangan tersebut, tampak keberanian dan kepahlawanannya. Keberaniannya menjadi kata kiasan dalam pemerintahan Utsmani. 2
  2. Bijaksana . Setelah menerima estafet kepemimpinan kaumnya, dia melihat bahwa merupakan sebuah tindakan bijak jika dia bergabung bersama Sultan Alauddin untuk menggempur orang-orang Kristen. Ini didukung oleh adanya penaklukan-penaklukan beberapa kota pertahanan dan benteng-benteng musuh. Oleh sebab itulah dia mendapat kepercayaan dari Sultan Saljuk Romawi Alauddin untuk menjadi Amir. Sultan mengizinkan dirinya untuk membuat mata uang dengan melukiskan namanya sendiri. Disamping itu, namanya disebutkan di khutbah-khutbah jum'at diwilayah yang menjadi kekuasaannya. 3

  3. Ikhlas . Keikhlasannya dalam menunaikan agama, tersebar luas hingga penduduk-penduduk yang berdekatan dengan wilayah kekuasaan Utsman. Tak ayal, para penduduk di perbatasan tersebut menjadi benteng tangguh dan pilar utama bangunan Islam dalam membendung serangan-serangan musuh yang mengancam Islam dan kaum Muslimin. 4
  4. Sabar . Sifatnya tampak saat melakukan penaklukan benteng dan negeri-negeri. Dia mampu membuka benteng Katah, benteng Lafkah, Aaq Hishar dan Qawj Hishar pada tahun 707 H. sedangkan pada tahun 712 H, dia mampu membuka benteng Kabwah, Yakijah Tharaqaluh, Takrar Bikari, dan yang lainnya.

    Penaklukan benteng-benteng tersebut, besar pengaruhnya dalam menaklukkan kota Burusah pada tahun 717H/ 1317 M. Dimana penaklukan kota tersebut diperlukan waktu yang cukup panjang dan pertempuran yang berlangsung bertahun-tahun. Bahkan penaklukan kota Burusah merupakan penaklukan paling sulit yang pernah dilakukan Utsman. Dimana dia terlibat pertempuran sengit dengan pemimpin kota itu yang bernama Ikrinus bertahun-tahun lamanya, hingga akhirnya dia menyerah dan menyerahkan kota Burusah pada Utsman. Allah berfirman,

    “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS Ali Imran 200).

  5. Daya tarik keimanan . Sifat ini tampak ketika Ikrinus pemimpin Burusah berinteraksi dengannya dan kemudian dia masuk Islam. Sultan memberinya gelar Baek . Dia kemudian menjadi salah satu komandan perang Khilafah Utsmaniyah yang sangat terkenal. Banyak komandan perang Byzantum yang terpengaruh dengan kepribadian Utsman dan metode yang dilakoninya, sehingga banyak diantara mereka yang bergabung dengan tentara-tentara Utsmani. 5

    Bahkan banyak jama'ah-jama'ah Islam yang meleburkan diri dalam pemerintah Utsmani, seperti jama'ah Ghuzya Rum (pasukan penyerbu Romawi). Kelompok ini adalah kelompok yang selalu melakukan penjagaan diwilayah-wilayah perbatasan Romawi dan mencegah serangan yang mungkin datang menyerbu kekuatan Islam sejak masa pemerintahan Abbasiyah. Wujud pasukan ini telah memberikan pelajaran penting dalam melawan orang-orang Romawi dan sekaligus meneguhkan komitmen mereka dengan Islam serta kepatuhannya pada ajaran Islam.

    Kelompok lain yang meleburkan diri dalam pemerintahan Utsmani, adalah kelompok yang bernama Al-Ikhyan atau Al-Ikhwan . Mereka adalah kelompok orang-orang pemurah yang selalu memberi bantuan pada kaum Muslimin dan selalu terbuka menerima kehadiran mereka, serta selalu mengiringi pasukan kaum Muslimin saat melakukan perang. Sebagian besar kelompok ini, terdiri dari para pedagang kaya yang menyumbangkan hartanya bagi kepentingan Islam, seperti mendirikan masjid, toko, dan penginapan-penginapan. Mereka memiliki kedudukan istimewa dalam pemerintahan. Dalam kelompok ini juga terdapat beberapa ulama berilmu luas yang aktif menyebarkan pengetahuan Islam dan gigih dalam upaya menjadikan manusia berpegang teguh pada agama Islam.

    Ada pula jama'ah yang bernama Hajiyat Rum (penziarah negeri Romawi). Kelompok ini adalah kelompok yang memiliki pengetahuan dan syariat Islam yang jempolan dan detail. Mereka bertujuan untuk membantu kaum Muslimin secara umum dan kaum Mujahidin secara khusus, serta masih banyak kelompok-kelompok lain. 6
  6. Adil . Sebagian besar referensi yang berasal dari Turki menyebutkan bahwa Urthugril mengangkat anaknya Utsman menjadi qadhi di kota Qarahjah Hishar setelah dia mampu mengambil alih wilayah tersebut dari tangan orang-orang Byzantum pada tahun 1285 M. suatu saat Utsman memenangkan perkara seorang Byzantum Turki. Maka orang itu pun sangat heran dan bertanya pada Utsman: “Bagaimana mungkin engkau memberi keputusan hukum yang mendatangkan maslahat padaku, sedangkan saya sendiri tidak seagama denganmu?” Kemudian Utsman menjawab: ”Bagaimana mungkin saya tidak memutuskan perkara yang mendatangkan maslahat padamu padahal Allah Tuhan yang saya sembah berfirman. “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS An-Nisa 58). Keadilan inilah yang telah membuat orang tadi mendapat hidayah dan masuk Islam. 7

    Sesungguhnya Utsman menjalankan keadilan terhadap rakyat yang ditaklukannya. Dia tidak pernah memperlakukan pihak yang kalah dengan tindakan zalim, kejam, bengis, dan tidak manusiawi. Perlakuannya terhadap mereka selalu berpedoman pada hukum Ilahi yang berbunyi,

    “Berkata Dzulkarnain: "Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami". (QS Al-Kahfi 87-88)

    Dengan mengaplikasikan aturan Rabbani ini, menunjukkan bahwa dia memiliki keimanan, ketakwaan, dan kecerdasan serta pada saat yang sama telah memberikan keadilan, kebaikan, dan kasih pada sesama.

  7. Memenuhi Janji . Dia sangat memperhatikan pemenuhan janji. Tatkala pemimpin benteng Ulubad yang berasal dari Byzantum meminta syarat saat dia menyerah pada tentara Utsmani, agar tidak seorang pun Utsmani muslim yang menyebar di saat jembatan untuk memasuki benteng maka dia pun memenuhi persyaratan itu demikian juga orang yang datang setelahnya 8
    . Allah berfirman,

    “Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya”. (QS Al-Isra 34)

  8. Ikhlas karena Allah dalam setiap penaklukannya. Semua penaklukan yang ia lakukan, sama sekali bukan demi kemaslahatan ekonomi dan kemaslahatan militer atau yang lainnya. Tetapi sebagai kesempatan untuk menyampaikan dakwah dan menyebarkan agama-Nya. Oleh sebab itulah, sejarawan Ahmad Rafiq dalam buku At-Tarikh Al-‘Am Al-Kabir menyifatinya, “Utsman adalah seorang yang sangat agamis. Dia sangat mengerti bahwa penyebaran Islam itu merupakan kewajiban suci. Dia adalah “raja” dalam pemikiran politik yang memiliki pandangan yang luas dan kokoh. Utsman tidak sekali-kali mendirikan negaranya karena kecintaan pada kekuasaan. Dia mendirikan negaranya karena didorong oleh rasa cintanya untuk menyebarkan Islam. 9

    Mushir Ughlu mengatakan:”Utsman bin Urtughril benar-benar mengimani bahwa kewajiban satu-satunya dalam kehidupannya adalah berjihad dijalan Allah untuk menegakkan kalimat Allah. Dia telah melakukannya dengan segala daya dan upaya untuk mencapai tujuan ini. 10

Demikianlah beberapa karakteristik Utsman yang merupakan buah dari keimanan terhadap Allah, kesiapannya menyambut Hari Akhirat, kecintaannya pada orang-orang yang beriman dan kebenciannya pada orang-orang kafir, serta rasa cinta yang sedemikian dalam untuk berjihad dan berdakwah dijalan Allah. Oleh sebab itulah, Utsman dalam setiap penaklukannya meminta pada semua pemimpin Romawi di Asia Kecil untuk memilih tiga pilihan yakni: Masuk Islam, membayar jizyah, atau berperang. Maka dari itu, sebagian mereka masuk Islam, sebagiannya bergabung dengannya, dan sebagian lagi ada yang membayar jizyah. Sedangkan, orang yang tidak memilih Islam dan tidak membayar Jizyah, maka akan dia akan memerangi hidup-mati. Dia pun mampu mengalahkan mereka dan menggabungkan wilayah-wilayah itu dibawah kekuasaannya.

Utsman memiliki kepribadian yang seimbang dan ajeg. Semuanya, berkat keimanannya yang demikian agung kepada Allah dan Hari Akhir. Oleh karena itu, kekuasaannya tidak melenyapkan keadilannya, kesultanannya tidak menghilangkan rasa kasihnya, tidak pula kekayaannya mengotori kerendahan hatinya. Manusia demikian, berhak untuk mendapatkan pertolongan dan dukungan dari Allah SWT. Maka dari itu, Allah memuliakannya dengan potensi brilian untuk membuat strategi-strategi yang mampu memenangkan dan mengalahkan, dan semuanya merupakan karunia Allah atas hamba-Nya yang bernama Utsman.

Allah telah memberikan kemampuan dan kekuatan padanya untuk mengendalikan Asia Kecil dari sisi opini, kehandalan tempur militer, dan kharisma pribadi. Allah telah menjaganya oleh karenanya Allah membuka pintu taufik dan Dia mengabulkan apa yang menjadi tujuan dan maksudnya. Pekerjaannya demikian agung karena rasa cintanya pada dakwah di jalan Allah. Dia mampu menggabungkan dalam penaklukan-penaklukan dengan tajamnya pedang dan meluluhkan hati dengan iman dan ihsan. Setiap dia melakukan penaklukan pada satu wilayah, maka dia akan menyeru mereka pada kebenaran dan keimanan kepada Allah. Dia sangat peduli untuk melakukan perubahan di sebuah wilayah dan negeri yang ditaklukannya, bahkan ia selalu berusaha untuk menghadirkan kebenaran dan keadilan. Utsman adalah sosok yang loyal dan cinta pada orang-orang yang memiliki keimanan sebagaimana dia sangat benci pada orang kufur.

Dustur Yang Menjadi Panduan Pemerintahan Utsmani

Kehidupan Utsman diwarnai dengan jihad dan dakwah dijalan Allah. Para ulama selalu mengelilinginya dan selalu memberikan nasehat, baik masalah tata negara dan implementasi syariah atau pengendalian kekuasaan. Sejarah telah memberi catatan pada kita semua, bagaimana Utsman memberikan nasehat pada anaknya saat berada di ranjang kematian. Wasiat yang dia ucapkan mengandung makna peradaban dan manhaj syariah yang menjadi pedoman dalam pemerintahan Utsmani setelah meninggalnya.

Utsman berkata dalam wasiatnya: “Wahai anakku, janganlah kamu menyibukkan dirimu dengan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh Tuhan Semesta Alam. Jika kamu menghadapi kesulitan dalam masalah hukum, maka bermusyawarahlah dengan ulama-ulama yang mengerti agama. Wahai anakku, hormatilah orang yang taat padamu dengan penuh bangga, dan berbuat baiklah pada para tentara dan jangankah setan memperdayamu dengan banyaknya tentara dan hartamu. Janganlah engaku menjauhi ahli syariah. Wahai anakku, sesungguhnya kau tahu tujuan kita semua adalah untuk mencari rido Allah Tuhan Semesta Alam, dan sesungguhnya jihad meliputi semua cahaya agama kita diseluruh cakrawala sehingga rido Allah akan turun kepada kita. Wahai anakku, kita bukanlah golongan manusia yang berperang karena nafsu untuk menguasai. Sebab kita dengan Islam hidup dan untuk Islam kita mati. Inilah wahai anakku apa yang mesti kamu perhatikan”. 11

Dalam buku At-Tarikh Al-Siyasi Li Al-Dawlat Al-‘Aliyah Al Utsmaniyyah akan didapat wasiatnya dalam ungkapan yang berbeda. Dia mengatakan: “Ketahuilah wahai anakku. Sesungguhnya penyebaran Islam itu, dan menyeru manusia pada hidayah, melindungi kehormatan kaum Muslimin dan harta mereka adalah amanah yang ada diatas lehernya, yang akan Allah tanyakan suatu waktu tentangnya”. 12

Dalam buku Ma'sat Bani Utsman kita akan dapatkan satu riwayat lain dari wasiat Utsman buat anaknya Orkhan. Dia berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya saya akan berpindah keharibaan Tuhan-ku, saya akan sangat bangga jika kau menjadi sosok yang adil terhadap rakyatmu, berjihad dijalan Allah dan menyebarkan agama Islam. Wahai anakku, saya wasiatkan padamu agar kau dekat dengan ulama umat ini, perhatikan mereka, hormati mereka, selalu musyawarahlah dengan mereka, sebab mereka tidak akan pernah menyuruh kecuali pada kebaikan. Wahai anakku, janganlah kau sekali-kali melakukan perbuatan yang tidak Allah ridoi. Jika kau dapat kesulitan, maka bertanyalah pada ulama ahli syariah, sebab mereka akan menunjukimu pada kebaikan. Ketahuilah wahai anakku, bahwa tujuan kita satu-satunya adalah menyebarkan agama Allah. Kita bukanlah orang yang mencari kedudukan dan dunia”. 13

Wasiat ini telah menjadi manhaj dimana para penguasa Utsmani menjalankan roda kekuasaannya. Mereka selalu memperhatikan ilmu pengetahuan dan lembaga-lembaga riset ilmiah, memperhatikan kualitas militer dan lembaga-lembaganya, menghormati para ulama dan tetap konsisten dengan jihad yang sukses menaklukan negeri-negeri jauh yang mampu ditempuh pasukan muslim, sebagaimana mereka juga telah mampu menebarkan pemerintahannya dan menebarkan peradabannya. 14

Wasiat abadi inilah yang menjadi pegangan para penguasa Utsmani disaat mereka berada dipuncak kekuasaan, kemuliaan, dan kekokohannya.

Saat Utsman meninggal, dia telah mewariskan kekhalifahan Utsmani dengan luas 16.000 km persegi. Dengan negara yang baru lahir itu, dia telah menembus Laut Marmarah, dengan bala tentaranya dia telah berhasil mengancam dua kota utama Byzantium kala itu yakni Azniq dan Burshah. 15




Catatan Kaki

1.
Al-Bidayah wa Al-Nihayah: 12/192-93.
2. Lihat: Jawanib Mudhi'ah fi Tarikh Al-Utsmaniyin Al-Atraak, hal. 197.
3. Lihat: Qiyam Al-Dawlat Al-Utsmaniyah, hal. 25.
4. Lihat: Qiyam Al-Dawlat Al-Utsmaniyah, hal. 26
5. Lihat: Qiyam Al-Dawlat Al-Utsmaniyah, hal.28.
6. Lihat: Al-Taraju ‘Al-Hadhari fi Al-‘Alam Al-Islami, Dr. Abdul Halim, hal. 332.
7. Lihat: Jawanib Mudhiah, hal 32.
8. Lihat: Jawanib Mudhiah, hal 33.
9. Lihat: Jawanib Mudhiah, hal 33.
10. Lihat: Jawanib Mudhiah, hal 33.
11. Al-Utsmaniyyun fi Al-Tarikh wa Al-Hadharah. Dr. Muhammad Harb, hal 16.
12. Lihat: Jawanib Mudhiah, hal 21.
13. Lihat: Jawanib Mudhiah, hal 3.
14. Al-Utsmaniyyun fi Al-Tarikh wa Al-Hadharah, hal 26.
15. ibid, hlm 15.

<<Home