SEJARAH UTSMANI

Dikutip dari buku yang berjudul:
"Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah"

Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi

SULTAN MURAD II (1421-1452)

Sultan Murad II berkuasa setelah meninggalnya ayahnya, Muhammad Jalabi, pada tahun 1421 M (824H). Umurnya saat itu tidak lebih dari delapan belas tahun. Dia demikian mencintai jihad di jalan Allah dan berdakwah untuk menyiarkan Islam di benua Eropa.1

Dia dikenal dikalangan rakyat sebagai sosok yang memiliki sifat takwa, adil, dan kasih sayang.2 Sultan Murad II mampu meredam semua gerakan separatis dalam negeri yang dilakukan oleh pamannya sendiri yang bernama Mushtafa, yang didukung musuh-musuh pemerintahan Utsmani. Kaisar Manuel II dari Byzantium , merupakan orang yang berada dibalik konspirasi dan hambatan yang dialami Sultan Murad II. Dia lah yang membantu Mushtafa sehingga mampu mengepung kota Gallipoli yang dia rampas dari tangan sultan dan dia jadikan sebagai pusat pemberontakan. Namun, Sultan Murad II berhasil menangkap pamannya dan dikirimkan ke tiang gantungan.

Kendati demikian, tak menyurutkan langkah Kaisar Manuel II yang terus melanjutkan rencananya dengan memberi perlindungan pada saudara kandung Murad II. Bukan hanya itu, saudara kandung Murad II diberi kepercayaan untuk memimpin pasukan yang menguasai kota Nicaea di Anatolia. Murad II segera berangkat ke dua tempat tersebut, dan berhasil memaksa musuhnya untuk menyerah dan setelah itu dibunuh.

Oleh karena tindakan kaisar Byzantium yang terus merongrong stabilitas wilayah Utsmani, Sultan Murad II dengan tekad bulat berusaha untuk memberikan pelajaran langsung padanya. Untuk itu dia menyerbu Slonika dengan kekuatan besar pada bulan Maret tahun 1431 M. Sejak itu, jadilah Slonika sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pemerintahan Utsmani.

Sultan Murad II juga melakukan pukulan yang demikian hebat terhadap kaum pemberontak di wilayah Balkan. Dia berusaha untuk menguatkan cengkeraman kekuasaan pemerintahan Utsmani di wilayah itu. Tentara Utsmani kemudian beranjak menuju wilayah utara, untuk menaklukkan wallachia dan mewajibkan padanya untuk membaya upeti tahunan. Raja Serbia yang baru bernama Stephen Lazarevitch, terpaksa harus tunduk pada pemerintahan Utsmani dan rela dibawah pemerintahannya serta harus memperbaharui loyalitasnya kepada sultan. Setelah itu, pasukan Utsmani bergerak ke arah selatan dimana disana telah menanti bantuan yang menguatkan pemerintahan Utsmani di negeri Yunani.

Sultan melanjutkan jihad dan dakwahnya dan terus membersihkan semua hambatan yang ada di Albania dan Hungaria.

Tentara Utsmani mampu menaklukkan Albania pada tahun 1431 M. Mereka mengonsentrasikan serangannya pada bagian selatan negeri itu. Sedangkan di dua bagian utara Albania , tentara Utsmani harus mengalami peperangan yang demikian getir. Dimana orang-orang yang berada di wilayah utara Albania, mampu memukul mundur dua pasukan Utsmani di Pegunungan Albania. Sebagaimana halnya tentara Utsmani juga mengalami kekalahan dalam dua kali serangan beruntun yang dipimpin sultan sendiri. Tentara Utsmani mengalami kerugian yang demikian besar, saat mereka menarik pasukannya dari wilayah itu. Pada saat terjadi peperangan antara Turki Utsmani dengan Albania, negara-negara Kristen merupakan pendukung yang berada dibalik tentara Albania. Dukungan itu khususnya datang dari pemerintahan Venezia, yang menyadari akan bahaya penaklukkan yang dilakukan oleh Utsmani bagi wilayah-wilayah yang sangat penting dan strategis ini, yang berada di pantai dan pelabuhan lautnya yang menghubungkan antara Laut Tengah (Laut Mediterania) dengan dunia luar. Mereka sadar bahwa mereka akan sanggup untuk menghalangi kapal-kapal Venezia yang berada di lautan tertutup yakni Lautan Adriatik. Demikianlah Sultan Murad II tidak bisa menikmati kestabilan pemerintahan di Albania.3

Sedangkan yang berhubungan dengan Hungaria, tentara Utsmani mampu mengalahkan pasukan Hungaria pada tahun 1438M. Tujuh puluh ribu diantaranya menjadi tawanan pasukan Utsmani. Mereka juga mampu menguasai tempat-tempat penting. Kemudian bergeral menaklukkan Belgrade (Beograd) ibu kota Serbia. Namun usaha ini gagal, karena secara tiba-tiba aliansi pasukan Salib dalam jumlah yang sangat besar yang diberkahi oleh Paus. Aliansi pasukan Salib ini bertujuan untuk mengusir orang-orang Utsmani dari Eropa secara keseluruhan. Pasukan ini terdiri dari beberapa negara seperti Hungaria, Polandia, Serbia, Genoa, Venezia, Byzantium, Burgundi. Dalam pasukan ini, bergabung pula pasukan Jerman dan Cekoslovakia. Komando pasukan salib diberikan pada seorang jenderal dari Hungaria yang cerdik bernama Johannes Henyadi. Dia memimpin pasukan darat Salibis dan berangkat ke arah selatan. Dia berhasil mengalahkan pasukan Utsmani selama dua kali pada tahun 1442 M. Kekalahan ini memaksa tentara Utsmani menandatangani kesepakatan damai.4 Perjanjian yang ditandatangani di Sisjaden ini terjadi pada bulan Juli tahun 1444 M. Dengan kesepakatan gencatan senjata selama sepuluh tahun. Dalam perjanjian itu Turki Utsmani menyatakan, menyerahkan Serbia dan mengakui George Brancovites sebagai penguasanya. Sebagaimana Sultan Murad II juga menyerahkan Valichie kepada Hungaria. Dia juga membayar tebusan suami puterinya yang bernama Mahmud Syalabi yang waktu itu menjadi panglima pasukan perang tentara Utsmani dengan harga 60.000 duqiyah. Perjanjian kesepakatan itu ditandatangani dalam dua bahasa, bahasa Turki dan bahasa Hungaria. Raja Ladislas dari Hungaria bersumpah dengan menggunakan Injil sebagaimana Sultan Murad II bersumpah dengan menggunakan Al-Qur'an untuk mematuhi kesepakatan ini dengan sebaik-baiknya dan dengan cara yang terhormat.

Setelah Murad II telah selesai menandatangani kesepakatan dengan musuh-musuhnya yakni orang-orang Eropa, dia kembali ke Anatolia . Saat tiba di Anatolia dia harus berkabung dengan kematian anaknya. Maka semakin bertambah kesedihannya dan dia semakin menjauhi masalah-masalah keduniawian dan kekuasaan. Akhirnya dia menyatakan mundur dari kesultanan dan menyerahkannya pada anaknya yang bernama Muhammad, yang saat itu baru berumur sekitar empat belas tahun. Karena dia masih sangat muda, sang ayah mengawalnya dengan beberapa cerdik cendekia dari pihak kesultanan. Dia sendiri setelah itu pergi ke Magnesia di Asia Kecil untuk mengisi sisa-sisa hidupnya dalam uzlah dan ketentraman batin, dalam rangka beribadah sepenuhnya kepada Allah serta merenungkan kebesaran kekuasaan-Nya, setelah merasa bahwa pemerintahannya berada dalam keadaan stabil.

Namun kondisi ini tidak dia rasakan sepenuhnya dalam jangka waktu yang panjang5 sebab Kardinal Sizarini dan sebagian pendukungnya menggagalkan kesepakatan dengan pemerintahan Utsmani yang telah disepakati sebelumnya, dan mereka bertekad untuk mengusir orang-orang Utsmani dari Eropa secara keseluruhan. Apalagi kini tahta Utsmani telah ditinggalkan Sultan Murad II dan telah diserahkan pada anaknya yang masih muda dan belum berpengalaman. Bagi mereka, raja yang baru tidak dianggap berbagaya. Paus Ogen IV setuju dengan pemikiran setan ini6 dan dia meminta orang-orang Kristen untuk membatalkan perjanjian itu dan sebaliknya menyerang kaum muslimin. Dia menjelaskan pada orang-oang Kristen bahwa perjanjian yang telah disepakati dengan orang-orang muslim itu tidak sah sebab itu dilakukan tanpa persetujuan dari Paus sebagai wakil Yesus di bumi. Kardinal Sizarini dikenal sebagai sosok yang cekatan, tidak pernah istirahat dari bekerja. Dia dengan semangat yang tinggi selalu berusaha untuk melenyapkan orang-orang Utsmani. Oleh sebab itulah, dia selalu mengadakan kunjungan pada raja-raja Kristen dan mendorong mereka untuk membatalkan perjanjian dengan kaum muslimin.

Berkat usahanya dia berhasil meyakinkan para raja untuk membatalkan kesepakatan dengan orang-orang muslim. Dia mengatakan, bahwa atas nama Paus, mereka bebas dari tanggung jawab dari pembatalan itu dan dia memberkati tentara dan senjata mereka. Wajib bagi mereka untuk mengikuti jalannya, sebab jalan yang dia tempuh adalah jalan keselamatan dan barangsiapa yang menentang dalam kalbunya dam dia takut mendapatkan dosa, maka dia akan menanggung dosa dari apa yang dia perbuat.7

Orang-orang Kristen membatalkan kesepakatan dan mereka segera mempersiapkan pasukan untuk memerangi kaum muslimin. Mereka segera mengepung Kota Varna sebuah kota di Bulgaria yang berada di tepi Laut Hitam, yang sebelumnya telah merdeka dan berada ditangan kaum muslimin. Pembatalan perjanjian ini merupakan tanda yang sangat jelas sebagai permusuhan. Oleh sebab itulah, Allah mewajibkan atas kaum muslimin untuk memerangi mereka, Allah berfirman,

“Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.” (QS At-Taubah 12)

Tidak ada janji dan kesepakatan yang mereka jaga, sebab memang itulah tabiat mereka. Mereka tidak segan-segan untuk menggempur siapa sajan, manusia lemah sekalipun mereka bunuh dan merega jagal.8 Maha Benar Allah yang telah berfirman saat menggambarkan mereka,

“Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS At-Taubah 10)

Tatkala orang-orang Kristen maju untuk menyerang pemerintahan Turki Utsmani, kaum Muslimin yang berada di Adrianople mendengar desas-desus serbuan kaum Salibis. Mereka pun dilanda rasa takut dan khawatir. Pejabat pemerintah, segera mengirim utusan kepada Sultan Murad II meminta agar dia segera kembali untuk menghadapi bahaya yang sedang datang. Maka keluarlah Sultan Murad II sang Mujahid itu dari tempat pengasingan ibadahnya, untuk memimpin pasukan Utsmani melawan pasukan Salib itu. Sultan Murad II berhasil menjalin kesepakatan dengan armada laut Genoa untuk mengangkut empat puluh ribu pasukan Turki Utsmani dari Asia menuju Eropa yang didengar dan dilihat langsung oleh armada Salib. Sultan sepakat membayar setiap satu tentara dengan ongkos satu dinar emas.

Sultan Murad II dengan cepat melakukan perjalanan perangnya, dan dia tiba di Varna, Bulgaria, bersamaan dengan datangnya pasukan Salib.

Sehari setelah itu, berkecamuklah peperangan antara pasukan Kristen dan pasukan Islam dalam peperangan yang demikian sengit. Sultan Murad II sendiri telah meletakkan kertas perjanjian yang telah dilanggar oleh musuh-musuhnya di ujung tombak, agar mereka menyaksikan dan langit serta bumi juga ikut menyaksikan terhadap pengkhianatan dan permusuhan mereka. Ini juga dia maksudkan agar semangat perang pasukannya meningkat.9

Kedua pasukan bertempur dalam sebuah pertempuran dahsyat. Bahkan hampir saja kemenangan berada di tangan orang-orang Kristen, karena adanya sentimen keagamaan mereka dan semangat mereka yang demikian menggebu. Namun semangat menggebu mereka harus bertubrukan dengan ruh jihad yang demikian tinggi dikalangan tentara Utsmani. Saat itulah, Raja Ladislas (dari Hungaria) yang ingkar janji bertemu dengan Sultan Murad II yang menetapi janji secara langsung. Keduanya duel satu lawan satu. Maka terjadilah satu perang tanding yang demikian seru, antara dua pemimpin yang akhirnya dimenangkan Sultan Murad II dan raja Hungaria itu kalah akibat pukulan telak ujung tombak Sultan, sehingga membuatnya jatuh dari atas kudanya. Maka segeralah sebagian mujahidin memotong kepalanya dan mereka mengangkat di ujung tombak dengan menyebut nama Allah dan menggemakan takbir penuh suka cita.10 Salah seorang mujahidin dengan lantang berteriak pada musuh, “Wahai orang-orang kafir, ini adalah kepala raja kalian.” Tak ayal pemandangan ini menimbulkan dampak yang demikian kuat terhadap pasukan Kristen, dimana mereka dilanda rasa takut dan panik. Maka kaum Muslimin segera melakukan serangan, yang berhasil menghancurkan kesatuan mereka dan mengalahkan mereka dengan kekalahan yang demikian telak. Akhirnya, pasukan Kristen lari tunggang langgang dan saling dorong-mendorong. Sultan sendiri tidak mengusir musuhnya itu dan dia mencukupkan dengan kemenangan ini. Sebuah kemenangan yang sangat gemilang.11

Pertempuran ini terjadi di Lembah Pantellaria pada tanggal 17 Oktober 1448. Peperangan ini berlangsung selama tiga hari berturut-turut dan berakhir dengan kemenangan pasukan Muslimin. Kemenangan ini telah membuat Hungaria sebuah negeri – minimal dalam jangka waktu sepuluh tahun – yang tidak mampu bangkit melawan perlawanan militer terhadap pasukan Utsmani.12 Sultan Murad II sendiri masih konsisten dengan kezuhudannya pada dunia dan kekuasaan, sehingga untuk kedua kalinya dia mengundurkan diri dari tahta kesultanan dan menyerahkan kembali pada anaknya Muhammad. Sedang ia sendiri kembali mengasingkan diri di Magnesia, sebagaimana kembalinya singa yang menang bertarung ke sarangnya.

Sejarah telah menyebutkan pada kita, ada beberapa raja dan penguasa yang mengundurkan diri dari tahtanya dan mengasingkan diri dari hiruk pikuk kekuasaan. Ada sebagian diantara mereka yang kembali naik tahta. Namun tidak ada satu sejarah pun yang menyebutkan pada kita semua, bahwa disana ada seorang raja yang turun tahta dua kali, kecuali Murad II. Sesungguhnya pada saat dia berangkat menuju pengasingannya di Asia Kecil, tiba-tiba sekelompok tentara yang disebut Inkisyariyah di Adrianople melakukan pemberontakan, pembangkangan, dan pengrusakan. Sedangkan Sultan Muhammad waktu itu masih sangat muda. Sebagian pembesar Utsmani khawatir persoalan ini akan membesar, bahayanya akan mengembang dan kejahatannya akan semakin memuncak serta mendatangkan akibat yang jelek. Maka mereka kembali mengutus utusan pada Sultan Murad II untuk kembali ke ibu kota mengendalikan kekuasaan ditangannya.13

Maka dia pun segera mengambil kendali kekuasaan dan mampu menaklukkan para pemberontak itu. Kemudian dia mengirim anaknya, Muhammad, ke Magnesia dan dia memerintah disana, di Anatolia. Sedangkan Sultan Murad II sendiri tetap memgang tampuk kekuasaan hingga akhir hayatnya yang semuanya dia pergunakan untuk perang dan penaklukan.14

Muradi II Dan Kecintaannya Pada Para Penyair, Ulama, Dan Kesukaannya Melakukan Kebaikan

Muhammad Harb berkata, “Murad II – walaupun tidak dikenal banyak memiliki syair – dia dikenal sebagai sosok yang memiliki kepedulian pada sastra dan puisi. Sebab kenikmatan yang dia miliki, juga bisa dinikmati para penyair yang sengaja dipanggil dua hari dalam seminggu, dengan tujuan menyimak apa yang mereka karang. Mereka melantunkan syair bernama Sultan. Sultan pun ikut memberi penilaian baik atau jelek terhadap syair-syair mereka. Dia bisa memilih atau membuang syair-syair mereka. bahkan dia tidak segan-segan memberikan peluang kerja, sehingga mereka terlepas dari kesusahan hidup. Dizamannya telah lahir penyair dalam jumlah yang cukup besar.15

Dia telah berhasil mengubah istana penguasa menjadi semacam akademi ilmiah. Bahkan diantara para penyair itu ada yang mengiringnya ke medan jihad.16

Diantara syairnya,
“Datanglah mari kita menyebut Allah,
Karena kita tidak akan abadi di dunia.” 17

Sultan Murad II dikenal sebagai sosok yang alim, berotak brilian, adil, dan pemberani. Dia mengirimkan harta dari koceknya sendiri pada penduduk Mekkah, Madinah dan Baitul Maqdis (Yerusalem) sebanyak tiga ribu lima ratus dinar setiap tahun. Dia sangat peduli terhadap ilmu pengetahuan, pada para ulama, para syaikh, dan orang-orang saleh. Dia telah membangun tiang-tiang kerajaan, mengamankan jalan, menegakkan syariat dan agama menghinakan orang-orang kafir dan atheis.18

Yusuf Ashaf mengatakan tentang dia, “Dia adalah seorang yang saleh dan takwa, seorang pejuang yang gigih, cinta pada kebaikan, cenderung pada rasa kasih dan ihsan.

Wasiat Menjelang Wafat

Sultan meninggal di istana Adrianople pada saat umurnya menjelang 47 tahun. Sesuai wasiatnya, dia dikebumikan disamping Masjid Jami Muradiyah di Bursa. Selain itu, ia berwasiat agar diatas kuburannya tidak dibangun apa-apa. Dia juga mewasiatkan agar disamping kuburannya dibikin tempat-tempat untuk duduk pada penghafal Al-Qur'an. Dia meminta agar dirinya dikubur pada hari jum'at. Semua wasiat yang diminta dilaksanakan.19

Dalam wasiatnya, dia juga meninggalkan satu syair, setelah dia merasa khawatir dikuburkan disebuah kuburan yang besar padahal dia sendiri menginginkan agar diatas kuburannya tidak dibangun bangunan apapun. Syair tersebut berbunyi.

“Maka datanglah haru,
dimana setiap orang hanya melihat tanah kuburanku.”
20

Sultan Murad II telah melakukan pembangunan masjid, madrasah-madrasah, beberapa istana, dan beberapa jembatan. Diantaranya adalah Masjid Jami Adrianople yang memiliki tiga beranda.

Disamping masjid itu, dia membangun madrasah Watakiyah yang memberikan makanan pada orang-orang fakir dan miskin.21




Catatan Kaki

1.
Lihat: Akhtha ‘Yajibu an Tushahhah (Al- Dawlat Al-Utsmaniyah) hlm. 38.
2. Lihat: As-Salathin Al-Utsmaniyun, hlm. 43.
3. Lihat: Al-Dawlat Al-Utsmaniyah fi Al-Tarikh Al-Islami Al-Hadits, hlm. 46.
4. Ibid.
5. Lihat: Muhammad Al-Fatih, hlm 42-43.
6. ibid. 43.
7. Ibid: 44.
8. Lihat: : Akhtha ‘Yajibu Tushahhah (Al-Dawlat Al-Utsmaniyah), hal. 41.
9. Lihat: Muhammad Al-Fatih, Dr. Salim Ar-Rasyidi, hlm. 45.
10. Lihat: Muhammad Al-Fatih, Dr. Abdus Salam Abdul Aziz, hlm 22.
11. Lihat: Muhammad Al-Fatih, Dr. Salim Ar-Rasyidi, hlm. 44.
12. Lihat: Al-Dawlat Al-Utsmaniyah fi Al-Tarikh Al-Islami Al-Hadits, hlm. 46.
13. Lihat: Muhammad Al-Fatih, 47.
14. Sultan Muhammad Al-Fatih, 23.
15. Al-Utsmaniyun fi-Al-Tarikh wa Al-Hadharah, hlm. 246.
16. Ibid.
17. Al-Salathin Al-Utsmaniyunm hlm 43.
18. Lihat: Tarikh Salathin Ali Utsman, Al-Qaramani, hlm. 55.
19. Lihat: As-Salathin Al-Utsmaniyun fi Al- Tarikh wa Al-Hadharah, hlm 43.
20. Lihat: Al-Utsmaniyyun fi Al-Tarikh wa Al-Hadharah, hlm 246.
21. Lihat: Al-Salathin Al-Utsmaniyyun, hlm 43.

<<Home