SEJARAH UTSMANI

Dikutip dari buku yang berjudul:
"Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah"

Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi

SULTAN MURAD I (1360-1389)

Murad I dikenal sebagai sosok yang sangat pemberani, dermawan, dan agamis. Dia demikian kokoh memegang semua aturan dan sangat mencintainya. Selalu berlaku adil pada rakyat dan tentaranya, mencintai jihad dan membangun masjid, sekolah-sekolah, dan tempat berlindung. Disekelilingnya terdapat sejumlah orang yang memiliki karakter yang baik, yang terdiri dari para komandan, orang-orang yang berpengalaman dan kalangan militer. Bersama merekalah Murad I selalu memusyawarahkan masalah-masalah negara. Dia telah mampu meluaskan wilayahnya di Asia Kecil dan Eropa pada saat yang sama.

Di Eropa, tentara Utsmani menyerang wilayah-wilayah yang dikuasai oleh kekasisaran Byzantium. Pada tahun 1360M, dia mampu menguasai Adrianople ( Edirne ). Sebuah kota yang sangat stategis di Balkan dan dianggap sebagai kota kedua dalam kekaisaran Byzantium. Murad menjadikan kota ini sebagai ibu kota pemerintahannya sejak tahun 1366M. Dengan demikian, maka beralihlah ibu kota pemerintahan Utsmani ke Eropa dan Adrianople (Edirne) menjadi ibu kota pemerintahan Islam.

Pemindahan ibu kota ini oleh Murad dimaksudkan:
  1. Menjadikan Adrianople ( Edirne ) sebagai wilayah pertahanan yang kuat, serta sebagai usaha untuk mendekatkan diri dengan medan jihad.
  2. Keinginan Murad I untuk memasukkan semua wilayah Eropa yang telah ditaklukkan dan dikuasai.
  3. Di tempat baru tersebut, Murad I menghimpun semua elemen-elemen yang akan menjadi cikal-bakal negara lengkap dengan prinsip-prinsip dasar sebuah pemerintahan. Terbentuklah serikat-serikat pegawai, divisi-divisi pasukan tempur, lembaga-lembaga yang terdiri dari praktisi hukum dan pemuka agama. Juga dilengkapi dengan lembaga kehakiman, sekolah-sekolah agama, dan akademi-akademi militer untuk membangun para-militer.
Demikian lah Adrinople (Edirne) berada dalam kondisi politik, militerm administrasi, religi, dan budaya kondusif hingga akhirnya kekuatan Utsmani mampu menaklukkan Konstantinople pada tahun 1453 M, yang kemudian menjadikannya sebagai ibu kota pemerintahan mereka.

Koalisi Salib Melawan Sultan Murad I

Sultan Murad terus melakukan gerakan jihad, dakwah, dan mengekspansi wilayah-wilayah di Eropa. Sementara itu pasukannya terus bergerak menuju Macedonia. Apa yang dia capai telah mengundang reaksi keras. Maka dibentuklah koalisi Salib Balkan yang diberkahi oleh Paus V. Koalisi ini terdiri dari orang-orang Serbia, Bulgaria, Hungaria, dan wilayah Wallachia. Semua negara sekutu ini mampu menghimpun pasukan sebanyak 60 ribu untuk menghadang pasukan Utsmani yang dikomandani oleh Lala Syahin, dengan pasukan yang lebih sedikit jumlahnya dari pasukan koalisi ini. Mereka disambut di sebuah tempat bernama Tasyirmen, sebuah tempat dekat Sungai Maritza. Ditempat inilah terjadi pertempuran sengit dengan kekalahan di pihak koalisi Eropa. Dua pemimpin asal Serbia melarikan diri, namun keduanya tenggelam didalam Sungai Maritza. Sedangkan raja Hungaria berhasil selamat dari kematian. Adapun Sultan Murad sendiri saat itu sedang sibuk berperang di Asia Kecil, dimana dia mampu menaklukkan beberapa kota. Setelah itu dia kembali ke ibu kota untuk mengatur kembali wilayah-wiayah yang ditaklukkan, satu hal yang biasa dilakukan oleh seorang komandan yang bijak. 1

Berkat kemenangan Utsmani atas pasukan koalisi Salib ini, menghasilkan beberapa hal yang sangat penting, diantaranya:
  1. Berhasil ditaklukkannya wilayah Turaqiya dan Macedonia dan mereka sampai keselatan Bulgaria dan timur Serbia.
  2. Wilayah-wilayah kekuasaan dan kota-kota Byzantium, Bulgaria, dan Serbia berjatuhan ketangan tentara Utsmani laksana jatuhnya daun di musin gugur. 2

Perjanjian Antara Pemerintah Utsmani Dengan Kekaisaran Kristen

Otot kekuasaan Utsmani semakin kuat dan tak ayal membuat negara-negara tetangga dilanda ketakutan, khususnya negara-negara yang lemah. Oleh karena itu, Republik Ragusa segera mengirimkan utusannya untuk mengadakan kesepakatan persahabatan dan ekonomi, dengan cara membayar upeti tahunan sebanyak 500 keping uang kontan. Ini merupakan kesepakatan pertama yang terjadi antara pemerintahan Utsmani dan negara Kristen. 3

Pertempuran Qawsharah (Pantellaria)

Sultan Murad I sendiri selalu memantau semua yang terjadi di Balkan, melalui para komandan perangnya yang ternyata membuat Serbia jengah. Mereka berkali-kali mengambil kesempatan ketidakhadiran Sultan di Eropa untuk menggempur pasukan Utsmani di Balkan dan wilayah sekitarnya. Namun mereka selalu gagal dan tidak pernah mendapat kemenangan berarti. Oleh karena itulah pasukan Serbia dan Bosnia Bulgaria beraliansi, dimana mereka segera menyiapkan tentara Salib Eropa dalam jumlah yang demikian banyak untuk memerangi Sultan – kali ini dengan persiapan yang matang dan kuat – menyerbu wilayah Kosovo di Balkan. Ada sebuah peristiwa menarik saat itu. Seorang menteri Sultan Murad yang saat itu datang dengan membawa Al-Qur'an, tanpa sengaja membuka mushafnya dan pandangannya jatuh tepat pada ayat ini,

“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.” (QS Al-Anfal 65)

Seluruh yang hadir merasakan kemenangan akan segera tiba dan kaum muslimin bersuka cita dengannya. Maka dalam jangka waktu tak berapa lama, pertempuran berkecamuk antara dua pasukan yang akhirnya kemenangan yang demikian gemilang dicapai kaum muslimin. 4

Syahidnya Sultan Murad I

Setelah kemenangan di Pantellaria, Sultan Murad I melakukan inspeksi medan perang dengan berkeliling ditengah-tengah korban perang kaum muslim dan mendoakan mereka. pada saat itulah ada seorang pasukan Serbia yang pura-pura mati dan dia segera berlari menuju Sultan. Namun pengawal Sultan segera menangkapnya. Si Serbia berkilah dan berpura-pura ingin berbicara dengan Sultan secara langsung dan akan menyatakan diri masuk Islam dihadapannya. Mendengar alasan demikian, Sultan mengisyaratkan agar pengawal itu melepasnya. Situasi ini dimanfaatkan si Serbia, untuk berpura-pura ingin mencium tangan Sultan, padahal dengan cepat kilat dia mengeluarkan pisau beracun dan menikamnya pada diri Sultan. Akhirnya syahid lah 5.

Kata-kata Terakhir Sultan Murad I

“Tidak ada yang patut saya utarakan saat perjalanan terakhirku, kecuali saya harus menyatakan syukur kepada Allah, karena sesungguhnya dia adalah Yang Maha Mengetahui semua yang gaib yang mengabulkan permohonan seorang hamba yang fakir. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Tidak ada yang berhak untuk dipuja dan disyukuri kecuali Dia. Kini perjalanan hidupku telah mendekati akhir dan saya melihat di depan mata kemenangan tentara Islam. Taatilah oleh kalian anakku Yazid. Janganlah kalian menyiksa para tawanan dan jangan pula kalian sakiti mereka, janganlah kalian perlakukan mereka dengan cara yang tidak baik. Sejak kini saya tinggalkan kalian dan saya tinggalkan tentaraku yang menang untuk menuju rahmat Allah. Dia-lah yang akan menjaga negara kita dalam semua hal”. 6

Sultan Murad meninggal dalam keadaan syahid saat berusia 65 tahun.

Sesungguhnya Sultan hidup dalam hakikat iman. Oleh karena itulah, dia selalu tergerak untuk terjun ke medan Jihad dan selalu siap untuk mengorbankan segala yang dia miliki demi dakwah Islam.

Sultan Murad I telah memimpin pemerintahan Utsmani selama tiga puluh tahun dengan penuh hikmah kecerdikan yang tidak seorang pun politikus dan pemimpin yang mampu menyamainya dimasanya. Sejarawan Inggris Halaco Nadeles melukiskan tentang Murad I:”Murad telah melakukan banyak hal penting dan besar, dia terjun dalam 37 peperangan, baik di Anatolia maupun di Balkan. Dan dia keluar sebagai pemenang. Dia memperlakukan rakyatnya dengan penuh kasih sayang tanpa melihat pada adanya perbedaan ras dan agama. 7

Sejarawan Perancis Keyrnard menyebutkan, “Murad adalah salah seorang penguasa Imperium Utsmani terbesar. Jika kita lakukan klasifikasi maka kita dapatkan dia jauh berada diatas para pemimpin Eropa di masanya. 8

Murad I telah mewariskan sebuah kekuasaan yang demikian besar dari bapaknya. Luasnya mencapai 95.000 km persegi. Pada saat syahidnya anaknya, Bayazid, menerima kekuasaan darinya setelah luas wilayahnya mencapai 500.000 km persegi. Itu berarti bahwa selama kekuasaannya yang berlangsung selama dua puluh sembilan tahun, dia telah berhasil memperluas lima kali lipat peninggalan ayahnya, Orkhan.

Akibat Kemenangan Kaum Muslimin Di Peperangan Pantellaria

  1. Menyebarnya Islam di wilayah Balkan, dan banyaknya para pemimpin mereka yang masuk Islam atas kesadaran mereka sendiri.
  2. Memaksa beberapa negara Eropa untuk mengeruk cinta pemerintahan Utsmani. Sehingga sebagian diantara mereka siap menyatakan diri untuk membayar upeti pada pemerintahan Utsmani. Sedangkan sebagian yang lain menyatakan dengan terang-terangan loyalitas mereka pada pemerintahan Utsmani karena takut pada kekuatannya.
  3. Meluasnya kekuasaan Utsmani pada penguasa-penguasa Hungaria, Rumania, dan wilayah-wilayah yang bertetangga dengan Adriatik hingga pengaruh mereka sampai ke Albania.





Catatan Kaki

1.
Lihat: Tarikh Al-Utsmaniyah Al-A'liyah hal 131.
2. Lihat: Al-dawlat Al-Utsmaniyah fi Al-Tarikh Al-Islami Al Hadits, Dr. Ismail Baghi, hal 37.
3. Lihat: Tarikh Al-Utsmaniyah Al-A'liyah, hal 132.
4. Lihat: Muhammad Al-Fatih, Dr Salim Ar-Rasyidi hal 30 dan Al-Futuh Al-Islamiyah ‘Abar Al-Ushur 389.
5. Lihat: Tarikh Salathin Ali Utsman, Al-Karamani, hal 16.
6. Lihat: Al-Futuh Al-Islamiyah ‘Abar Al-‘Ushur 391.
7. Lihat: Al-Utsmaniyyun fi Al-Tarikh wa Al-Hadharah hal 19.
8. Ibid.

<<Home