SEJARAH UTSMANI

Dikutip dari buku yang berjudul:
"Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah"

Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi

SULTAN MUHAMMAD I (1379-1421)

Sultan Muhammad I dilahirkan pada tahun 1379 M / 781 H.1 Dia menjadi penguasa sepeninggal ayahnya, Bayazid I. Dalam sejarah, dia dikenal sebagai Muhammad Jalabi.

Dia bertubuh tinggi sedang, wajah bundar, kedua alisnya bersatu, berkulit putih, kedua pipinya merah, berdada bidang, memiliki tubuh yang kuat dan sangat dinamis. Muhammad adalah sosok sangat pemberani, dia seorang pegulat yang kuat dan mampu menarik busur anak panah yang kuat sekalipun. Pada saat memerintah, dia ikut terjuan dalam 24 peperangan dan badannya terluka sebanyak 40 kali.2

Muhammad I mampu meredam perang saudara berkat kemampuannya dan kecerdikan yang Allah karuniakan padanya serta pandangannya yang sedemikian jauh. Dengan demikian, dia mampu mengalahkan saudara-saudaranya satu per satu hingga akhirnya kekuasaan berada ditangannya. Dalam masa pemerintahannya yang berlangsung selama delapan tahun, dia mampu membangun kembali pemerintahan Utsmani dan mengokohkan sendi-sendinya.3 Sebagian sejarawan menganggap, bahwa dia adalah “pendiri kedua” pemerintahan Utsmani.4

Yang sangat berkesan dari apa yang dilakukan Sultan Muhammad I adalah bahwa dia mampu menggabungkan antara tekad yang kuat dengan kesabaran dalam menghadapi tekanan dari pihak-pihak yang melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Utsmani. Tatkala melakukan penyerbuan ke negeri pemimpin Karman yang sebelumnya telah menyatakan merdeka, dia memberinya ampunan setelah bersumpah dengan menggunakan Al-Qur'an bahwa dirinya tidak akan melakukan pengkhianatan kembali pada pemerintahan Utsmani. Kemudian dia memberinya ampunan kedua kali tatkala dia mengingkari janji untuk kedua kalinya.5

Siasat demikian dia lakukan, dalam rangka mengembalikan pembangunan kembali pemerintahan Utsmani dan untuk konsolidasi internal. Oleh karenanya, dia melakukan kesepakatan dengan kaisar Byzantium dan mengajaknya bersekutu. Dia pun mengembalikan beberapa kota yang berada di tepi pantai Laut Hitam dan Thessalie padanya. Selain itu, dia melakukan perjanjian damai dengan pemerintahan Venezia setelah kekalahan pasukan lautnya dihadapan Clitopoli. Dia mampu meredam semua fitnah dan pemberontakan yang timbul di Asia dan di Eropa dan dia mampu menaklukkan beberapa negeri Asia yang dibangkitkan oleh Timurlenk dan negeri-negeri ini tunduk dibawah pemerintahannya.6

Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad I ini, muncul seorang ulama bernama Badruddin yang memiliki sifat seorang ulama Islam. Dia berada di barisan tentara Musa, saudaranya Sultan, dan menduduki jabatan sebagai hakim militer, satu kedudukan paling tinggi dimasa pemerintahan Utsmani waktu itu. Hakim ini telah berada dibawah pengaruh Musa bin Yazid.

Pengarang buku Al-Syaqaiq Al-Nu'maniyah mengatakan, “Syaikh Badruddin Mahmud bin Israil yang lebih terkenal dengan Bin Qadhi Simawanah, dilahirkan di Simawanah salah satu desa yang berada di Adrianople Romawi yang berada di Eropa yang masuk wilayah Turki. Ayahnya adalah seorang hakim yang bertugas disana dan sekaligus sebagai komandan pasukan muslimin ditempat itu. Dia berhasil menaklukkan benteng pada masa pemerintahan Sultan Khudawandakar (Murad I), salah seorang sultan Bani Utsman. Dia seorang yang hafal Al-Qur'an dan belajar Al-Qur'an pada Al-Mawla yang lebih dikenal dengan Asy-Syahidi. Begitu pula, dia belajar ilmu Sharraf dan Nahwu pada Maula Yusuf. Kemudian dia melakukan perjalanan ke Mesir. Disana dia belajar pada Sayyid Asy-Syarif Al-Jurjani dan Mawlana Mubarak Syah Al-Manthiqi di Kairo. Kemudian dia menunaikan ibadah haji bersama-sama dengan Mubarak Syah. Di Mekkah dia belajar pada Syaikh Az-Zay'ali Kemudian dia kembali ke Mesir dan bersama-sama Sayyid Al-Jurjani kembali pada Syaikh Akmauluddin Al-Bayaburi. Sedangkan pada Syaikh Badruddin ini, turut belajar pula Sultan Faraj bin Sultan Barquq, raja Mamluk Mesir saat itu.

Setelah itu dia mencapai satu tarikan ilahi yang demikian kuat. Kemudian dia tinggal bersama dengan Syaikh Said Al-Akhlathi yang saat itu tinggal di Mesir. Maka jadilah dia salah seorang muridnya. Syaikh Akhlathi mengirimnya ke Tibris untuk berguru ilmu Tasawuf. Dikisahkan bahwa tatkala Timurlenk datang ke Tibriz, Badruddin menerima uang dalam jumlah yang sangat besar dari Timurlenk. Kemudian dia melanjutkan perjalanannya ke Mesir, lalu ke Aleppo , kemudian Konya serta Tibrah salah satu kota di wilayah Romawi. Saat itu dia mendapat undangan dari kepala pemerintahan Pulau Saqaz yang beragama Kristen, yang kemudian masuk Islam dibawah pimpinan Syaikh. Tatkala Musa – salah satu anaknya Utsman – menjadi sultan, dia diangkat sebagai hakim militer. Kemudian saudara Musa yang bernama Muhammad, membunuh Musa dan memenjarakan Syaikh bersama keluarganya disebuah tempat bernama Azniq.7

Di Azniq – salah satu kota di Turki –, Syaikh Badruddin Mahmud Israil mulai mengajak orang pada mazhabnya yang menyimpang dan merusak. Dia menyerukan pada penyamarataan dalam harta, kebutuhan, dan penyamaan agama. Dia tidak membedakan antara kaum muslim dan non-muslim dalam masalah akidah. Dalam pandangannya, manusia itu adalsh bersaudara walaupun berbeda akidah dan agamanya. Dia mengajak pada ajaran Fremansory Yahudi. Banyak orang-orang bodoh dan orang-orang yang memiliki ambisi rendahan, bergabung dengan apa yang dia serukan. Kini Badruddin sang perusak itu memiliki murid-murid yang mengajak dan mempropagandakan ajaran yang ia serukan. Salah seorang muridnya yang sangat terkenal adalah Qalijah Musthafa, sedangkan satunya yang diduga sebagai keturunan Yahudi bernama Thurah Kamal. Orang-orang Yahudi sejak masa Rasulullah SAW hingga kini selalu berada di belakang konspirasi untuk menjatuhkan umat.

Aliran sesat ini menyebar dan memiliki banyak pengikut. Maka Sultan Muhammad Jalabi segera menyatakan perang terhadap aliran sesat ini. Dia mengirim salah seorang komandan pasukannya dengan jumlah pasukan yang besar. Sayangnya komandan Sisman itu terbunuh oleh tangan pengkhianat Pir Qalijah. Tentaranya kalah. Mendengar kekalahan itu, Sultan segera mempersiapkan pasukan baru yang dipimpin oleh perdana menterinya, Bayazid Pasya. Bayazid Pasya segera menggempur Pir Qalijah dan berhasil memenangkan peperangan di Qarah Buruno. Setelah kemenangannya itu, maka diberlakukan hukuaman atas orang Pir Qalijah Mushtafa, sesuai dengan perintah Allah SWT dalam8 firmannya,

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (QS Al-Maidah 33)

Sedangkan Syaikh Badruddin, terus berada dalam kesesatannya dan menyangka bahwa dia akan menguasai negeri itu, mengingat kondisi negeri yang tidak stabil dan porak-poranda akibat serangan dari berbagai sisi. Syaikh Badruddin mengatakan, “Saya akan melakukan revolusi untuk menguasai seluruh bumi. Dalam keyakinan saya ada isyarat gaib, bahwa saya akan membagi dunia ini diantara murid-muridku dengan kekuatan ilmu dan rahasia tauhid. Saya akan menghancurkan semua hukum-hukum yang batil dan ahli taklid dan mazhab mereka. Dan saya akan menghalalkan – setelah perluasan kekuasaanku – sebagian hal yang diharamkan.” 9

Amir Aflaq di Rumania, mem- back up penyeleweng ahli bid'ah dan zindiq ini secara materi dan militer. Sementara itu, Sultan Muhammad Jalibi selalu melakukan pengawasan ketat terhadap gerakan ini dan selalu menyempitkan gerakan mereka. Hingga akhirnya, Badruddin terpaksa melarikan diri dengan menyeberangi Dulai Orman yang kini merupakan wilayah Bulgaria.10

Syaikh Syafruddin mengatakan, tentang mengapa Syaikh Badruddin melarikan diri ke Dulai Orman, “Sesungguhnya wilayah ini dan wilayah-wilayah yang mengitarinya adalah sarang aliran kebatinan. Wilayah ini adalah wilayah pusat pemberontakan Papa Ishaq yang berusaha memberontak pada pemerintahan Utsmani di abad ke tujuh hijriah. Kepergian Syaikh ini ketempat tersebut dan bergabungnya demikian banyak pengikutnya, merupakan petunjuk yang nyata bahwa dia sengaja memilih tempat ini secara khusus.11

Di Dulai Orman ini, mulailah bantuan berdatangan pada Syaikh sehingga wilayah pemberontakan semakin meluas melawan sultan Utsmani, Muhammad I. Pasukan yang melawan Islam yang benar ini berjumlah sekitar tujuh hingga delapan ribu orang.12

Sultan Muhammad I mengawasi masalah ini dengan penuh cermat dan kesadaran yang demikian tinggi. Dia sama sekali tidak pernah lalai terhadap apa yang dilakukan pemberontak. Sultan sendiri terjun memimpin perang melawan Syaikh Badruddin. Tentara yang dipimpin sultan ini merupakan tentara paling besar yang datang ke Dulai Orman.

Sultan Muhammad menjadikan Siruz salah satu wilayah yang kini masuk dalam kekuasaan Yunani, sebagai pusat kendalinya. Sultan mengirim pasukannya dan akhirnya pemberontak berhasil dihancurkan. Badruddin sang pemberontak sendiri mundur dari wilayah itu untuk menghindari sultan.13

Mata-mata Sultan Muhammad mampu mengacak-acak barisan kaum pemberontak dan melakukan tipu daya yang jitu, sehingga pada akhirnya dengan kecerdikan dan kelihaian mereka, Badruddin tertangkap sebagai tawanan perang.

Tatkala Sultan Muhammad I bertemu muka dengan Badruddin, dia berkata, “Kenapa saya lihat wajahmu menguning?”

Badruddin menjawab, “Sesungguhnya matahari, tuanku, menguning saat akan tenggelam.”

Beberapa ulama dari kalangan pemerintahan Utsmani melakukan debat terbuka dengan Badruddin, kemudian dijatuhkan padanya mahkamah syariah. Dan dikeluarkan putusan hukuman pancung sesuai ajaran Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya yang berbunyi,

“Barangsiapa yang datang kepadamu dan dia memerintahkan kamu untuk berada dibawah pimpinan satu orang yang dengan itu dia maksudkan untuk memecah belah kesatuan dan jamaah kalian maka bunuhlah dia” (HR Muslim:Bab kepemimpinan, pasal “Jika ada dua imam yang di bai'at, 3/1480 pada hadits no 1852).

Sesungguhnya aliran sesat yang didengungkan Badruddin sama dengan gerakan Freemansory modern di abad dua puluh masehi. Suatu ajaran yang menghilangkan batas-batas antara orang yang memeluk Islam yang shahih dengan pemeluk akidah-akidah yang rusak. Sebab dia mengatakan hendaknya dibangun ukhuwah antara orang-orang Islam, Kristen, Yahudi, dan para penyembah sapi. Tentu saja ini sangat bertentangan dengan akidah Islam yang benar (berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits) yang menegaskan bahwasanya tidak ada persaudaraan antara kaum muslimin dan pemeluk agama yang rusak. Sebab bagaimana mungkin ukhuwah itu akan terealisir diantara orang yang menyatakan perang terhadap Allah dan Rasul-Nya, dengan orang-orang yang mengesakan Allah?14

Sultan Muhammad I sangat menyukai syair, adab, dan seni. Disebutkan bahwa dia adalah sultan Utsmani yang pertama yang mengirimkan hadiah tahunan pada penguasa Mekkah, yang lebih dikenal dengan sebutan pundi uang. Uang itu dia kirimkan untuk dibagikan pada orang-orang fakir di Mekkah dan Madinah.15

Rakyat sangat senang terhadap Sultan Muhammad I. Mereka menggelarinya dengan sebutan “Pahlawan”. Gelar itu diberikan berkat aktivitasnya yang demikian banyak dan keberaniannya. Sebagaimana tindakan-tindakan yang mulia, kejeniusannya yang demikian baik dalam memimpin pemerintahan Utsmani sehingga terciptanya keamanan, sebagaimana juga sikapnya yang baik dan lembut serta kecerdikannya dan rasa cintanya pada keadilan dan kebenaran telah membuat rakyat mencintainya. Rasa cinta dan kagum inilah yang membuat mereka memberinya gelar “jalabi”. Satu gelar yang memiliki makna kehormatan, dimana didalamnya terkandung makna keberanian dan ksatria.

Memang banyak dari sultan Utsmani yang memiliki kemasyuran lebih darinya. Namun demikian, dia bisa dianggap sebagai sultan Utsmani yang paling baik. Para sejarawan Timur dan Yunani mengakui, jiwanya memiliki kemanusiaan yang tinggi. Sementara itu, para sejarawan Utsmani menganggapnya laksana seorang kapten cekatan yang mampu mengendalikan kapal pemerintahan Utsmani tatkala dia berada dalam ancaman topan serangan orang-orang Tartar dan perang internal.16

Wafatnya

Setelah mengerahkan semua daya upaya dalam usaha melenyapkan bekas-bekas fitnah yang menimpa pemerintahan Utsmani, serta usaha untuk mulai mengkonsolidasi internal yang menjamin tidak munculnya kembali pertikaian dimasa depan, dan tatkala dia sibuk dalam usaha-usahanya ini dia merasa bahwa ajalnya telah menjelang. Dia pun memanggil Bayazid Pasya dan berkata padanya, “Saya telah menentukan anakku, Murad, sebagai penggantiku. Maka taatilah dia dan berlaku jujurlah dengannya, sebagaimana hal itu kau lakukan terhadapku. Saya inginkan kalian mendatangkan Murad padaku saat ini juga, sebab saya tidak bisa berdiri dari pembaringanku ini. Jika takdir Allah telah lebih awal menjemputku sebelum kedatangannya, maka janganlah kalian mengumumkan kematianku hingga dia datang.”17

Dia meninggal pada tahun 1421 M (824 H) dikota Urnah pada saat berumur 43 tahun.

Karena khawatir akan munculnya hal-hal yang tidak terpuji andaikata kematian Sultan Muhammad diketahui, maka perdana menterinya yang bernama Ibrahim dan Bayazid sepakat merahasiakan kematian sultan hingga anaknya, Murad II tiba. Dimana keduanya mengabarkan, bahwa sultan sedang sakit. Setelah anaknya tiba setelah 41 hari, dia pun mengambil pucuk pimpinan.18

Sultan Muhammad I adalah sosok yang sangat menyenangi ilmu kedamaian dan ilmu pengetahuan. Ia demikian mencintai para fukaha. Oleh sebab itulah, dia memerintahkan pusat pemerintahan dari Adrianople ke Bursa yang sering disebut sebagai “ kota para fukaha”.19 Dia dikenal sebagai sosok yang memiliki akhlak yang mulia, keinginan yang demikian kuat, kesabaran yang tiada tanding, dan kebijakan politis yang indah dalam memperlakukan musuh dan lawannya.




Catatan Kaki

1.
Lihat: Akhtha ‘Yajibu Tushahhah (Al-Dawlat Al-Utsmaniyah), hal33.
2. Lihat: As-Salathin Al-Utsamaniyun.
3. Lihat: Muhammad Al-Fatih hal 37.
4. Lihat: As-Salathin Al-Utsmaniyyun, hal 41.
5. Tarikh Al-Dawlat Al-Utsmaniyah hal 249.
6. Lihat: Muhammad Al-Fatih hal 37.
7. Lihat: Al-Utsmaniyyun fi Al-Tarikh wa Al-Hadharah, hlm 133-134 yang dinukil dari buku Asy-Syaqaiq Al-Nu'maniyah , yang masih berbentuk manuskrip di Sulaymaniyah dengan nomor 2076.
8. Lihat: Akhta ‘Yajibu an Tushahhah (Al-Dawlat Al-Utsmanuiyah) hlm 35.
9. Lihat: Al-Utsmaniyun fi Al-Tarikh wa Al-Hadharah, hlm 40.
10. Ibid : 140.
11. Lihat: Al-Utsmaniyun fi Al-Tarikh, hlm 140.
12. Ibid: 141
13. Ibid : 141.
14. Lihat: Akhtha ‘Yajibu an Tushahhah (Al-Dawlat Al-Utsmaniyah) hlm 38.
15. Lihat: Al-Dawlat Al-‘Aliyah Al-Utsmaniyah, hlm 152.
16. Lihat: Fi Ushul Al-Tarikh Al-Utsmani hlm. 62.
17. As-Salathin Al-Utsmaniyun, hlm. 41.
18. Lihat: Tarikh Al-Dawlat Al-Utsmaniyah, hlm. 152.
19. Lihat: Ushul Al-Tarikh Al-Utsmani, hlm 63.

<<Home