SEJARAH UTSMANI

Dikutip dari buku yang berjudul:
"Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah"

Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi

SULTAN BAYAZID I (1389-1402)

Setelah syahidnya Sultan Murad I, anaknya yang bernama Bayazid menggantikannya. Dia dikenal sebagai sosok yang sangat pemberani, cerdas, murah hati, dan demikian ambisi untuk melakukan ekspansi memperluas wilayah Islam. Oleh karena itulah dia menaruh perhatian besar pada masalah kemiliteran dan berencana menaklukkan negara-negara Kristen di Anatolia. Hanya dalam jangka waktu setahun, negara-negara itu telah berada dibawah kekuasaan pemerintahan Utsmani. Dalam geraknya Bayazid I digambarkan laksana kilat diantara dua front Balkan dan Anatolia . Oleh karena itu, dia diberi gelar “Sang Kilat”.

Kebijakan Sultan Bayazid I Terhadap Serbia

Pertama kali yang ia lakukan, sejenak memangku jabatan sultan adalah segera melakukan hubungan bilateral dengan Serbia. Padahal pihak Serbia dahulu merupakan sponsor utama terjadinya koalisi pasukan Salib Balkan melawan pemerintahan Utsmani. Bayazid bermaksud dengan dibangunnya hubungan bilateral ini, Serbia menjadi tameng antara kekuasaan Utsmani dengan Hungaria. Dia berkepentingan untuk membentuk aliansi militer yang bebas aktif. Tujuannya adalah menaklukkan kerajaan-kerajaan Saljuk-Turki di Asia Kecil. Oleh sebab itulah, dia sepakat Serbia diperintah oleh dua anak Lazar yang sebelumnya telah terbunuh dalam peperangan Pantellaria. Dia mewajibkan atas keduanya untuk menjadi penguasa Serbia dan memerintah sesuai dengan hukum yang berlaku di Serbia, tradisi, dan adat yang ada disana. Dia juga mensyaratkan pada keduanya untuk menyatakan loyalitasnya dengan cara membayar upeti dan mengirimkan tentara yang ikut dalam satu kelompok khusus bagi mereka dalam setiap peperangan yang dipimpinnya.1 Bahkan Bayazid sendiri menikah dengan anak Raja Lazar.

Tunduknya Bulgaria Pada Pemerintahan Utsmani

Setelah terjadinya kesepakatan dengan Serbia, Sultan Bayazid I segera melakukan serangan dahsyat pada tahun 1393 M ke Bulgaria. Dia mampu menguasai wilayah itu dan mampu menundukkan rakyatnya. Dengan demikian, maka Bulgaria kehilangan kedaulatan politiknya. Kejatuhan Bulgaria ketangan pemerintahan Utsmani menimbulkan gaung keras di Eropa dan telah menebarkan kekhawatiran dan rasa takut diseluruh pelosok Eropa. Maka bergeraklah pasukan Salib Kristen untuk menumpas hegemoni pemerintahan Utsmani di Balkan.2

Bergabungnya Kristen-Salibis Melawan Pemerintahan Utsmani
Sigismund – Raja Hungaria – bersama dengan Paus Bonafice IX melakukan gerakan aliansi negera-negara Kristen Eropa-Salibis untuk melawan pemerintahan Utsmani. Ini merupakan gabungan kekuatan terbesar yang dihadapi pemerintahan Utsmani pada abad ke empat belas dalam hal jumlah negara yang bergabung didalamnya, lengkap dengan dukungan logistik senjata, dan bala tentara. Jumlah keseluruhan tentara Salib saat itu adalah 120.000 pasukan dari berbagai negara (Jerman, Perancis, Inggris, Skotlandia, Swiss, Luxemburg, dan wilayah-wilayah dataran rendah bagian selatan serta beberapa negara kecil di Italia).3

Pasukan ini berangkat menuju Hungaria pada tahun 1396 M. Namun para pemimpinnya berselisih pendapat dengan Sigismund sebelum peperangan dimulai. Sigismund lebih mengedepankan taktik bertahan hingga pasukan Utsmani datang menyerang. Hal ini ditentang para jenderal dan komandan perang yang berpendapat untuk menyerang langsung. Mereka menyeberangi Sungai Danube, yang akhirnya sampai di Nicopolis – sebelah utara Balkan. Mereka mulai mengepungnya. Pada awal peperangan, mereka berhasil unggul atas pasukan Utsmani. Namun tiba-tiba Bayazid muncul dibarengi 100.000 pasukan. Jumlah ini lebih sedikit dari pasukan gabungan Eropa-Salibis. Namun mereka lebih unggul dalam kedisiplinan dan persenjataan. Akibatnya, binasalah sebagian besar tentara Kristen. Mereka terpaksa lari tunggang langgang. Ada pula sebagian yang terbunuh dan sebagian pemimpinnya ditawan. Pasukan Utsmani dalam Perang Nicopolis ini berhasil mengumpulkan harta rampasan perang yang melimpah dan mampu menguasai barang simpanan musuh.4

Banyak pembesar Perancis yang tertawan dalam peperangan ini. Diantaranya yang bernama Comte de Nevers. Sultan Bayazid menerima tebusannya dan dia dibebaskan dari tawanan. Sultan sendiri menegaskan agar dia bersumpah untuk tidak kembali berperanga melawan dirinya. Sultan berkata padanya, “Saya membolehkan kamu tidak menaati sumpah ini, kau boleh saja untuk kembali berperang melawan aku. Sebab tidak ada satu hal pun yang saya lebih senangi daripada memerangi semua orang Kristen Eropa dan saya menang atas mereka.5

Sedangkan raja Hungaria yang telah kerasukan rasa bangga saat melihat jumlah pasukannya yang demikian banyak dan telah mengatakan, “Andaikan langit runtuh, maka akan kami tangkap dia dengan kekuatan pasukan kami.” Dia sendiri lari lintang pukang bersama dengan komandan pasukan kavaleri Rhodesia. Tatkala sampai di Laut Hitam, keduanya mendapatkan satu armada Kristen, maka melompatlah keduanya pada salah satu kapal dan segera melarikan diri tanpa menoleh kebelakang. Kekalahan Hungaria dalam Perang Nicopolis, menjadikan posisi Hungaria terpuruk di mata masyarakat Eropa dan wibawanya langsung melorot.6

Kemenangan yang sangat gemilang ini, memiliki dampak yang sangat kuat bagi Bayazid dan masyarakat Islam. Maka Bayazid segera mengirimkan surat pada para penguasa Islam di wilayah Timur dan memberikan kabar gembira pada mereka tentang kemenangan yang demikian gemilang atas pasukan Salib Kristen. Bersama para utusan, dikirimkan pula beberapa tawanan perang laki-laki kepada raja-raja Islam sebagai hadiah dari seorang yang menang perang dan sebagai indikasi material atas kemenangan yang telah dicapainya. Sedangkan Bayazid sendiri menganugerahi dirinya sebagai sultan Romawi, sebagai bukti bahwa dia telah mewarisi pemerintahan Saljuk dan telah menguasai Kepulauan Anatolia. Sebagaimana dia juga mengirimkan utusan pada khalifah Abbasiyah yang saat itu berada di Kairo, untuk mengokohkan gelar ini hingga dia bisa menggunakan gelar ini dalam kesultanannya yang telah dia usahakan bersama kakek-kakeknya sebelumnya. Dengan adanya pengesahan ini maka dia memiliki legalitas dan akan semakin kuat wibawa dan posisinya didunia Islam. Memang tidak ada pilihan lain bagi sultan Mamluk Mesir bernama Barquq, pelindung khalifah Abbasiyah, kecuali menerima permintaan ini. Dia melihat bahwa Bayazid adalah sekutu satu-satunya dalam usaha mencegah kekuatan Timurlenk yang sedang mengancam kekuasaan pemerintahan Mamluk (yang berpusat di Mesir) dan Utsmani. Pada saat itulah sekian ribu kaum muslimin hijrah ke Anatolia, mereka sengaja datang untuk melakukan pengabdian pada pemerintahan Utsmani. Peristiwa ini dipenuhi oleh sekian banyak tentara dan orang-orang yang memberikan kontribusi dalam kegiatan ekonomi, ilmiah, pemerintahan di Iran, Irak, dan Turkistan. Disamping itu juga ada beberapa kelompok orang yang melarikan diri dari serbuan Timurlenk menuju Asia Tengah.7

Pengepungan Konstantinople

Sebelum Perang Nicopolis, Bayazid mampu menekan kekaisaran Byzantium dan telah mampu pula memerintahkan pada kaisar untuk memilih qadhi di Konstantinople yang bertugas memutuskan perkara yang terjadi antara kaum Muslim. Bayazid terus mengepung ibu kota Byzantum, hingga akhirnya kaisar menerima pembentukan mahkamah Islam, pembangunan masjid, pembangunan 700 rumah khusus untuk kaum Muslimin didalam kota. Sebagaimana ia juga menyerahkan separuh desa Ghalthah yang menjadi tameng Utsmani karena didalamnya ada 6.000 tentara. Upeti yang harus diserahkan oleh Byzantium juga dinaikkan. Kas negara pemerintahan Utsmani mewajibkan untuk menyetorkan kurma, dan sayur-sayuran yang berada di luar kota. Tempat-tempat adzan kini berada di ibu kota Byzantium.8

Setelah mengalami kemenangan yang gemilang dalam Perang Nicopolis, pemerintahan Utsmani mampu mengokohkan kakinya di Balkan dimana rasa takut dan khawatir telah merebak pada rakyat Balkan. Sedangkan Bosnia dan Bulgaria tunduk dibawah pemerintahan Utsmani. Sementara itu tentara Utsmani terus melakukan pengawasan kemerosotan Kristen dan kemurtadan mereka. Sultan Bayazid menjatuhkan sanksi pada pembesar-pembesar Morea, yang telah dengan sengaja memberikan bantuan militer pada aliansi Salibis.9 Sebagai sanksi terhadap kaisar Byzantium, atas sikapnya yang menyatakan permusuhan tatkala Bayazid memintanya menyerahkan Konstantinople. Setelah itu, Kaisar Manuel meminta bantuan pada beberapa pemerintahan di Eropa, namun tidak ada respon positif yang dia terima.

Sesungguhnya penaklukkan Konstantinople menjadi target utama dalam program jihad Sultan Bayazid I. Oleh sebab itulah, dia bergerak sendiri memimpin pasukan Utsmani dan melakukan pengepungan ibu kota Byzantium yang demikian rapi dan melakukan tekanan yang keras. Pengepungan ini berlangsung sedemikian rapi, hingga membuat kota itu hampir menemui keruntuhannya. Tatkala Eropa menunggu hari-hari kejatuhan ibu kota Byzantium, tiba-tiba Sultan memalingkan perhatiannya dari penaklukkan kota Konstantinople, karena munculnya bahaya baru yang mengancam pemerintahan Utsmani.

Bentrokan Antara Timurlenk Dengan Sultan Bayazid

Timurlenk lahir dari keluarga terhormat yang berasal dari negara Turkistan. Pada tahun 1369 M, dia berkuasa di Khurasan dengan pusat kekuasaannya di Samarkand. Dengan kekuatan bengis dan menakutkan, dia mampu menguasai sebagian besar dunia Islam. Kekuasaannya telah meluas di Asia, dari New Delhi hingga Damaskus dan dari Laut Aral hingga Teluk Arab. Dia juga menundukkan Persia, Armenia, Eufrat, dan Tigris serta wilayah-wilayah yang ada diantara Laut Qazwin hingga Laut Hitam.

Di Rusia, dia juga mampu menguasai wilayah-wilayah yang merentang dari Sungai Fulja, Dune, dan Daniber. Bahkan ambisinya ingin menguasai seluruh bumi yang berpenghuni dan akan dia jadikan sebagai kekuasaannya. Dia selalu mengulang-ulang semboyannya, “Sesungguhnya wajib ada satu penguasa diatas bumi ini, karena di langit juga hanya ada satu Tuhan”.10 Timurlenk sendiri memiliki karakteristik yang sangat pemberani, ahli strategi dan ahli politik. Sebelum memutuskan sesuatu, dia akan mengumpulkan data-data dan akan menyebarkan sejumlah mata-mata. Barulah dia mengeluarkan perintahnya setelah mengamati dengan penuh seksama dan hati-hati. Tindakan yang dia ambil sama sekali tidak berdasarkan pada ketergesaan. Dia terkenal sebagai seorang yang sangat berwibawa, sehingga bala tentaranya akan selalu mematuhi perintahnya apa pun yang dia perintahkan.

Sebagai seorang muslim, Timurlenk menaruh perhatian yang besar pada para ulama dan tokoh-tokoh agama khususnya dari kalangan tarekat Naqsyabandiyah.11

Ada beberapa sebab yang menimbulkan bentrokan antara Timurlenk dan Bayazid I. Diantaranya adalah sebagai berikut:
  1. Para petinggi-petinggi di Irak yang negerinya kini dikuasai Timurlenk, meminta perlindungan pada Bayazid, sebagaimana para penguasa di Asia Kecil meminta perlindungan pada Timurlenk. Akibatnya, pada kedua sisi pihak yang meminta perlindungan ini, semuanya selalu mendorong terjadinya perang melawan pihak yang lain.

  2. Provokasi-provokasi Kristen terhadap Timurlenk untuk menumpas Bayazid.

  3. Adanya surat-surat yang membakar dari kedua belah pihak. Dalam salah satu surat yang dikirim Timurlenk pada Bayazid, dia menyatakan penghinaan yang sangat pedas tatkala dia menyebutkan secara implisit tentang ketidakjelasan asal-usul garis keturunannya. Dia menawarkan pengampunan atasnya, karena dia telah menganggap Bani Utsman telah banyak membaktikan diri untuk kepentingan Islam. Dia mengakhiri suratnya – sebagai pimpinan Turki – dengan mengecilkan posisi Bayazid yang telah menerima tantangan dan yang dengan terang-terangan mengatakan bahwa dia akan melawan Timurlenk yang akan merampas kesultanannya.

Kedua pemimpin ini, Timurlenk dan Bayazid, sama-sama berusaha untuk meluaskan wilayah kekuasaannya.

Jatuhnya Pemerintahan Utsmani

Timurlenk bersama-sama balatentaranya, terus bergerak dan dia mampu menguasai Siwas dan menekuklututkan balatentara Utsmani ditempat itu yang dipimpin oleh Urthughril bin Bayazid. Kedua pasukan bertemu dekat Ankara pada tahun 1402 M/ 804 H. Kekuatan tentara Bayazid mencapai 120.000 orang mujahid yang telah siap untuk menghadapi musuh. Sedangkan Timurlenk bergerak dengan kekuatan pasukan yang demikian banyak pada tanggal 20 Juli 1402 M /804 H. pada peperangan ini orang-orang Mongol berhasil mengalahkan tentara Utsmani dan Bayazid sendiri jatuh sebagai tawanan. Dia berada didalam tahanan itu hingga meninggal setahun setelah itu.12

Kekalahan ini disebabkan oleh ketergesa-gesaan Bayazid, sehingga dia tidak memilih tempat dengan cara yang sebaik-baiknya bersama-sama dengan tentaranya. Padahal jumlah tentaranya tidak kurang dari 120.000 orang, sedangkan tentara Timurlenk berjumlah tidak kurang dari 800.000 tentara. Banyak tentara Bayazid yang meninggal kehausan karena kekurangan air. Waktu itu adalah musim panas yang demikian gersang. Hampir saja kedua pasukan itu bertemu di Ankara, hingga akhirnya tentara Tartar yang berada dibarisan Bayazid dan tentara-tentara yang berasal dari negara-negara Asia yang berhasil Bayazid taklukan dalam masa beberapa waktu yang lalu juga melarikan diri dan bergabung dengan pasukan Timurlenk. Saat itulah tidak tampak lagi keberanian yang biasanya ditampakkan Bayazid dan bala tentaranya, serta perjuangan yang mati-matian dalam peperangan.13

Kemenangan Timurlenk dan kematian pimpinan Utsmani yang pemberani, disambut gembira negara-negara Kristen di Barat. Mereka bergembira dengan kondisi pemerintahan Utsmani yang tercabik-cabik dan mengalami kemuduran. Raja-raja Inggris, Perancis, Qasytalah, dan kaisar Byzantium segera mengirimkan ucapan selamat atas kemenangan yang dicapainya. Eropa merasa yakin bahwa kekalahan Utsmani dihadapan tentara Timurlenk, telah membebaskan mereka dari ancaman tentara Utsmani yang selama ini selalu menjadi momok di mata mereka.14

Setelah kekalahan Bayazid, Timurlenk menaklukkan Azniq Bursa dan kota-kota serta benteng-benteng pertahanan yang lain. Kemudian dia datang menyerang perbatasan Azmier dan mampu merampasnya dari pasukan kavaleri Rhodesia (pasukan kavalerinya Paus Yohanes). Semua dilakukan sebagai usaha membersihkan diri dari citra dihadapan publik kaum muslimin, dimana dia telah dituduh melakukan penyerangan yang menghancurkan Islam ketika menyerang dan menghancurkan pemerintahan Utsmani. Timurlenk juga berusaha dengan perangnya melawan Paus Yohanes, untuk memberikan kesan bahwa perangnya di Anatolia adalah memiliki semangat jihad.15

Perang Saudara

Pemerintahan Utsmani mengalami ancaman internal, setelah munculnya perang saudara antara anak-anak Bayazid dalam memperebutkan tahta kekuasaan. Peperangan ini berlangsung selama sepuluh tahun (1403-1413 M)

Bayazid memiliki lima orang anak laki-laki, yang semuanya ikut dalam setiap pertempuran. Sedangkan anaknya yang bernama Musthafa, telah diperkirakan terbunuh dalam peperangan. Musa, anaknya yang lain, telah ditawan bersama ayahnya. Sedangkan tiga anaknya yang tersisa berhasil selamat dalam pelarian. Anak terbesarnya bernama Sulaiman, telah melarikan diri ke Adrianople. Disanalah dia mendeklarasikan dirinya sebagai sultan. Sedangkan Isa pergi ke Bursa dan mengumumkan pada rakyatnya bahwa dirinyalah pengganti ayahnya. Adapun Muhammad – anak bungsunya – dengan beberapa tentara, menarik diri ke Amasia di timur laut Asia Kecil. Meletuslah pertempuran antara tiga saudara, memperebutkan negeri yang tercabik sedangkan musuh sedang menunggu dan menonton mereka dari semua penjuru. Maka Timurlenk melepaskan pangeran Musa dari tawanannya, untuk menambah sumbu api fitnah, dan menambah bahaya yang muncul dalam keluarga itu. Kemudian dia memanas-manasi mereka untuk bertempur dan saling menyerang antara satu dengan yang lain.16

Setelah satu tahun, Timurlenk dan bala tentaranya meninggalkan negeri itu yang berada dalam kondisi hancur berantakan sarat anarkis.17

Fase ini merupakan uji coba dalam sejarah pemerintahan Utsmani, yang hasilnya akan dipetik tatkala penaklukkan Kota Konstantinople. Sunnah Allah selalu saja tidak akan memenangkan satu umat, kecuali setelah mereka melalui fase uji coba yang berat dan beragam atau setelah diuji dengan berbagai peristiwa, sehingga Allah akan membedakan mana yang baik dan mana yang jelek. Sunnah ini juga berlaku bagi kaum Islam tanpa kecuali. Allah telah berkehendak untuk menguji kaum Mukminin, agar bisa tersaring keimanan mereka, setelah itu, baru mereka bisa berjaya di muka bumi.

Ujian bagi kaum mukminim sebelum kemenangan adalah masalah yang pasti dan sebagai filter agar bangunan yang ada bisa berdiri dengan kokoh dan kuat. Sebagaimana yang Allah firmankan.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS Al-Ankabut 2-3)

Pemerintahan Utsmani tetap kokoh bertahan, walaupun dilanda konflik internal, hingga akhirnya Muhammad I berhasil baik kekuasaan secara tunggal pada tahun 1413 M. Ia mampu menghimpun kembali wilayah-wilayah yang sebelumnya lepas dari kekuasaan pemerintahan Utsmani. Sesungguhnya kesadaran pemerintahan dari setelah terjadinya tragedi di Ankara, adalah karena kesadaran untuk kembali pada manhaj Rabbani, sehingga pemerintahan Utsmani kembali menjadi satu umat yang terpandang dari sisi akidah, agama, perilaku, dan jihad. Dengan karunia Allah, pemerintahan Utsmani mampu menjaga semangat religi mereka dan akhlak yang karimah.18




Catatan Kaki

1.
Lihat Al-dawlat Al-Utsmaniyah fi Al-Tarikh Al-Islami Al Hadits, Dr. Ismail Baghi, hal 41.
2. ibid.
3. Lihat: Tarikh Al-Dawlat Al-Utsmaniyah, Dr. Ali Hasun, hal 24-25.
4. Lihat Al-dawlat Al-Utsmaniyah fi Al-Tarikh Al-Islami Al Hadits, Dr. Ismail Baghi, hal 42.
5. Lihat: Tarikh Al-Dawlat Al-Utsmaniyah, Muhammad Farid Baek, 144.
6. Lihat: Muhammad Al-Fatih, Salim Ar-Rasyidi, hal 33.
7. Lihat: Fi Ushul Al-Tarikh Al-Islami, Ahmad Abdul Halim, hal 54-55.
8. Ibid, hal 53.
9. Lihat Al-dawlat Al-Utsmaniyah fi Al-Tarikh Al-Islami Al Hadits, Dr. Ismail Baghi, hal 42.
10. Ushul Al-Tarikh Al-Utsmani hal 56.
11. Ibid hal 56.
12. Lihat Al-dawlat Al-Utsmaniyah fi Al-Tarikh Al-Islami Al Hadits 2-3.
13. Muhammad Al-Fatih, Dr. Salim Al-Rasyidi, hal 53.
14. Ibid hal 36.
15. Lihat: Ushul Tarikh Al-Utsmani hal 59.
16. Lihat: Muhammad Al-Fatih, hal 36.
17. Ibid, hal 36.
18. Fi Ushul Al-Tarikh Al-Utsmani, 61.

<<Home