SEJARAH UTSMANI

Dikutip dari buku yang berjudul:
"Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah"

Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi

PENAKLUKAN KONSTANTINOPLE

Konstantinople dianggap sebagai salah satu kota terpenting didunia. Kota ini dibangun pada tahun 330 M oleh Kaisar Romawi Constantine I. Konstantinople memiliki posisi yang sangat penting di mata dunia hingga dikatakan, “Andaikata dunia ini ini berbentuk satu kerajaan, maka Konstantinople akan menjadi kota yang paling cocok untuk menjadi ibu kotanya.” Sejak didirikannya, pemerintahan Romawi telah menjadikannya sebagai ibu kota pemerintahan. Konstantinople merupakan salah satu kota terbesar dan terpenting di dunia kala itu.

Ketika kaum Muslimin berjihad melawan kekaisaran Byzantium (Romawi Timur), Konstantinople memiliki aspek strategis khusus dalam pertarungan saat itu. Oleh sebab itulah, Rasulullah SAW telah memberikan kabar gembira dalam beberapa kali sabdanya, bahwa kota itu akan bisa ditaklukkan. Makanya para khalifah kaum Muslimin berlomba-lomba untuk menaklukannya dalam rentang waktu yang panjag, dengan harapan mereka mampu merealisasikan apa yang disabdakan Rasulullah SAW saat bersabda,

“Konstantinople akan bisa ditaklukkan ditangan seorang laki-laki. Maka yang memerintah disana adalah sebaik-baik penguasa dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara” (HR Ahmad)

Oleh sebab itulah, kekuatan Islam akan selalu merambah kesana sejak masa pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan tahun 44 H. Namun serangan itu belum berhasil. Serangan dilakukan berkali-kali silih berganti, namun semuanya mengalami nasib yang sama.

Serangan paling besar dilakukan dimasa Dinasti Umayah, yaitu masa pemerintahan Sulaiman bin Abdul Malik tahun 98H.

Usaha-usaha untuk menaklukan Konstantinople terus berlanjut dimana dimasa awal khilafah Abbasiyah berlangsung jihad yang demikian intensif untuk melawan pemerintahan Byzantium. Namun usaha ini belum sampai ke Konstantinople walaupun serangan itu telah menimbulkan gejolak di dalam negeri Byzantium, khususnya serangan yang dilakukan oleh Harun Al-Rasyid pada tahun 190 H.1

Setelah itu beberapa pemerintahan kecil Islam di Asia Kecil – yang terpenting adalah pemerintahan Saljuk yang kekuasaannya mencapai Asia Kecil – telah melakukan hal yang sama. Sebagaimana pemimpinnya, Alib Arselan (455-565H) telah berhasil mengalahkan Kaisar Rumanos dalam peperangan di Manzikart pada tahun 1070M. Kaisar Byzantium itu berhasil ditawan, dan dibebaskan setelah ia berjanji akan membayar upeti tahunan untuk pemerintahan Saljuk. Ini menunjukkan adanya ketundukan sebagian besar kekaisaran Byzantium pada pemerintahan Islam Saljuk. Setelah pemerintahan Saljuk yang besar melemah, muncullah beberapa negara Saljuk diantaranya pemerintahan Saljuk-Romawi yang berada di Asia Kecil yang mampu meluaskan wilayahnya hingga ke pantai Ijah disebelah barat, serta mampu melemahkan kekaisaran Romawi.

Diawal abad keempat belas Masehi, pemerintahan Utsmani menggantikan pemerintahan Saljuk-Romawi.2 Kembali berbagai upaya penaklukan Konstantinople dilakukan pasukan Islam. Permulaan dilakukan oleh Sultan Bayazid “Sang Kilat”, yang dengan kekuatan pasukannya mampu mengepung Konstantinople tahun 1393 M.3 Sultan saat itu melakukan perjanjian dengan kaisar dan menuntut dia untuk menyerahkan kota itu dengan cara damai pada kaum Muslimin. Namun kaisar mengulur-ulur waktu dan berusaha untuk meminta bantuan pada negara-negara Eropa, untuk menghadang serangan tentara Islam ke Konstantinople. Pada saat bersamaan, tentara Mongolia dibawah pimpinan Timurlenk menyerbu wilayah-wilayah yang berada dibawah kekuasaan Utsmani. Pasukan Timurlenk melakukan pengrusakan-pengrusakan. Peristiwa itu memaksa Sultan Bayazid menarik kekuatannya dan menarik pengepungan Konstantinople, untuk kemudian menghadapi pasukan Mongolia. Dia memimpin sendiri sisa-sisa pasukannya, dalam menghadapi serangan tentara Mongol. Berkecamuklah pertempuran Ankara yang sangat masyur, dimana Bayazid ditawan dan dia meninggal saat berstatus sebagai tawanan tahun 1402 M.4 Akibatnya, tercabiklah pemerintahan Utsmani untuk sementara dan terhenti pulalah pemikiran untuk menaklukkan kota Konstantinople dalam jangka waktu cukup lama.

Tatkala negara Utsmani kembali stabil, semangat jihad kembali berkobar. Dimana pada masa pemerintahan Murad II yang berkuasa tahun 1421 hingga 1452 M, beberapa kali usaha penaklukan kota Konstantinople dilakukan. Bahkan dimasa pemerintahannya, tentara Islam beberapa kali mengepung kota ini. Pada saat itu kaisar Byzantium berusaha menimbulkan api fitnah ditengah-tengah barisan kaum Muslimin, dengan cara memberi bantuan pada orang-orang yang melakukan pemberontakan terhadap sultan.5 Dengan cara ini, kaisar Romawi mampu memecah konsentrasi pasukan Murad II menaklukan Konstantinople. Sehingga tentara Utsmani tidak mampu merealisasikan apa yang menjadi cita-cita Murad II, kecuali dimasa anaknya yang bernama Muhammad Al-Fatih.

Sejak masa ayahnya memerintah, Muhammad Al-Fatih telah terlibat dalam urusan kesultanan. Dimana, dia banyak terlibat dalam setiap bentrokan dengan pemerintahan Byzantium dalam kondisi yang berbeda-beda. Sebagaimana ia juga mengetahui bagaimana para pendahulunya telah berusaha untuk menaklukan kota Konstantinople. Bahkan dia sadar sepenuhnya, bagaimana usaha-usaha ini telah dilakukan secara berulang-ulang dalam masa pemerintahan Islam yang beragam. Dengan demikian, sejak berkuasa pada tahun 1451 M dia langsung mengarahkan pandangannya untuk menaklukan Konstantinople. Didikan alim ulama yang diterima, telah banyak menyumbangkan perkembangannya untuk mencintai Islam, memiliki iman yang kokoh dan keislaman yang baik, serta kecintaannya untuk mengamalkan apa yang ada didalam Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW. Oleh sebab itulah, dia tumbuh dan berkembang dengan komitmen yang demikian kuat terhadap syariat Islam, memiliki sifat takwa dan wara, mencintai ilmu dan ulama serta semangat tinggi untuk menyebarkan ilmu pengetahuan. Sifat religius yang demikian tinggi, merupakan manifestasi dari pendidikan Islam yang baik yang dia terima sejak kecil. Ini semua berkat bimbingan ayahnya serta berkat upaya yang keras dari tokoh-tokoh yang membimbingnya, yang diperkuat kebersihan hati guru-gurunya, jauhnya mereka dari tipu muslihat dunia, serta berkat mujahadahnya yang tinggi yang akhirnya melahirkan sosok Muhammad ini.6

Sejak kanak-kanak, Muhammad Al-Fatih banyak terpengaruh ulama-ulama Rabbani. Khususnya seorang alim Rabbani Ahmad bin Ismail Al-Kurani, sosok ulama yang memiliki keutamaan yang sempurna. Dia adalah pengajarnya dimasa pemerintahan Sultan Murad II, ayahnya Muhammad Al-Fatih. Pada saat itu, Muhammad Al-Fatih menjadi penguasa di wilayah Magnesia. Ayahnya telah mengirimkan sejumlah pengajar, namun dia tidak menaati perintah-perintahnya, bahkan tidak membaca apa pun hingga tidak mampu meng- khatam Al-Qur'an. Meski demikian Sultan Murad II mengorek informasi siapa diantara guru yang memiliki karisma tegas. Para pembantunya menyebut nama Al-Kurani. Maka sultan mengangkatnya menjadi pengajar anaknya dan memberinya tongkat yang bisa dipergunakan, jika anaknya tidak menuruti perintahnya. Menerima mandat demikian, Al-Kurani pergi menemuinya dengan memegang tongkat ditangannya. Dia berkata, “Ayahmu menyuruhku datang menemuimu untuk mengajarimu. Jika kamu tidak menurut apa yang aku katakan, maka kamu akan mendapat pukulan”.

Mendengar hal itu Muhammad Khan (Al-Fatih) tertawa dan Al-Kurani pun memukulnya di majlis tersebut dengan pukulan yang sangat keras, hingga membuat Muhammad takut dan jera. Akibatnya dalam jangka yang sangat pendek dia mampu meng- khatam Al-Qur'an.7

Pendidikan (tarbiyah) Islam yang benar ini, dan para guru yang mulia, khususnya orang alim tadi, adalah sosok-sosok yang akan selalu memberikan koreksi pada sultan, jika didapatkan hal-hal yang melanggar syariah yang dilakukan oleh sultan. Al-Kurani tidak pernah merundukkan kepalanya kepada sultan. Saat memanggil sultan, dia akan memanggilnya dengan nama aslinya dan tidak pernah mencium tangannya, bahkan sultan lah yang mencium tangannya. Oleh karena itu, tidaklah aneh jika dari tangan mereka lahir orang-orang besar seperti Sultan Muhamamd Al-Fatih. Dari tangannyalah lahir orang-orang mukmin dan muslim yang komitmen dengan syariat dan selalu konsekuen untuk melakukan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Dia akan selalu membela syariat dan selalu berusaha untuk menerapkannya, pertama untuk dirinya sendiri kemudian untuk rakyatnya. Muhammad Al-Fatih menjadi sosok yang selalu meminta doa para ulama yang saleh dan penuh amal.8

Persiapan Penaklukkan

Sultan Muhammad II berusaha dengan berbagai cara dan stategi untuk menaklukan kota Konstantinople. Diantaranya dengan cara memperkuat kekuatan militer Utsmani dari segi personil hingga jumlahnya mencapai 250.000 mujahid.9 Jumlah ini merupakan jumlah yang sangat besar, jika dibandingkan jumlah tentara dinegara lain saat itu. Dia juga memperhatikan pelatihan pasukannya dengan berbagai seni tempur dan ketangkasan menggunakan senjata, yang bisa membuat mereka ahli dan cakap dalam operasi jihad yang ditunggu-tunggu. Sebagaimana ia juga memperhatikan sisi maknawi dan menanamkan semangat jihad didalam diri pasukannya. Ia juga selalu mengingatkan mereka akan pujian Rasulullah SAW pada pasukan yang mampu menaklukan Konstantinople adalah tentaranya. Ini memberikan dorongan moral yang sangat kuat dan tiada tara dikalangan pasukannya. Ditambah kehadiran banyak ulama di tengah-tengah pasukan muslimin yang banyak memberi dampak demikian besar dalam menguatkan tekad pasukan dan menguatkan semangat jihad sesuai dengan perintah Allah SWT.

Semangat moral diperkuat dengan infrastruktur angkatan perang yang mutakhir dan strategi yang canggih. Dimana, Sultan Muhammad membangun benteng Romali Hishar di wilayah selatan Eropa di Selat Bosphorus pada sebuah titik yang paling strategis yang berhadapan dengan benteng yang pernah dibangun di masa pemerintahan Bayazid di daratan Asia. Kaisar Romawi berusaha membujuk Sultan Muhammad Al-Fatih untuk tidak membangun benteng dengan ganti uang yang akan dia bayarkan pada sultan. Namun, Sultan Muhammad tetap tidak bergeming dari rencana awalnya, sebab dia tahu pembangunan itu memiliki arti yang demikian strategis. Hingga akhirnya rampunglah satu benteng yang demikian tinggi dan sangat aman. Tingginya sekitar 82 meter. Maka jadilah dua benteng itu berhadapan yang dipisahkan jarak hanya 660 meter yang mampu mengendalikan penyeberangan armada laut dari arah timur Boshporus ke arah sebelah barat. Sedangkan nyala api meriam akan mampu mencegah semua armada laut sampai ke Konstantinople dari wilayah-wilayah yang berada di sebelah timurnya, seperti kerajaan Trabzon dan wilayah dan wilayah-wilayah lain yang memungkinkan untuk memberikan bantuan saat dibutuhkan.10

Perhatian Sultan Untuk Menghimpun Senjata

Sultan menaruh perhatian khusus untuk mengumpulkan senjata yang dibutuhkan, dalam rangka menaklukkan Konstantinople. Salah satu yang terpenting adalah meriam. Dia telah mengunang seorang insinyur ahli meriam yang bernama Orban. Kedatangannya disambut dengan hangat dan dia memberi semua fasilitas yang dibutuhkan, baik kebutuhan materi maupun pekerja. Insinyur ini mampu merakit sebuah meriam yang sangat besar. Diantara meriam yang sangat penting adalah meriam Sultan Muhammad yang sangat terkenal. Disebutkan bahwa meriam ini memiliki bobot hingga ratusan ton dan membutuhkan ratusan lembu untuk menariknya. Sultan sendiri melakukan pengawasan langsung pembuatan meriam ini, serta dia sendiri yang melihat uji cobanya.11

Perhatiannya Terhadap Armada Laut

Selain itu, dalam mempersiapkan penaklukan Konstantinople, Sultan juga memperhatikan penuh pada penguatan armada laut Utsmani yang ditandai dengan diperbanyaknya beragam kapal yang dipergunakan untuk membuka kota itu. Sebab kota Konstantinople adalah sebuah kota laut, yang tidak mungkin bisa dikepung, kecuali dengan menggunakan laut yang melaksanakan tugas ini. Disebutkan bahwa kapal yang sultan persiapkan berjumlah sekitar 400 kapal.12

Melakukan Kesepakatan

Sebelum melakukan serangan ke kota Konstantinople, sultan melakukan kesepakatan dengan negara rival, dengan tujuan agar dia bisa berkonsentrasi untuk menghadapi satu musuh. Maka dijalinlah perjanjian dengan negara Galata yang berbatasan dengan Konstantinople dari arah timur yang dipisahkan dengan Selat Tanduk Emas. Sebagaimana ia juga menjalin perjanjian dengan negara Majd dan Venezia, dua negara yang berbatasa dengan negara-negara Eropa. Namun, negara-negara ini ternyata tidak memperdulikan perjanjian, tatkala serangan Utsmani mulai beroperasi di Konstantinople. Pasukan negara-negara tersebut ternyata datang ke Konstantinople, ikut membantu mempertahankan Konstantinople.13 Sebuah bantuan yang mereka lakukan untuk saudara seiman dalam Kristen. Mereka melupakan perjanjian yang telah disepakati.

Saat gencar-gencarnya Sultan Muhammmad mempersiapkan diri melakukan penaklukan ini, kaisar Byzantium dengan mati-matian beruaha untuk mengalihkan perhatian sultan ari target yang dia inginkan, dengan cara memberikan harta dan hadiah yang bermacam-macam. Selain itu, dia juga berusaha untuk menyogok para penasihatnya, agar mempengaruhi keputusannya.14 Namun sultan tidak bergeming dari keputusannya dan dia sepenuh hati bertekad untuk melaksanakan rencana besarnya. Dan semua yang kaisar lakukan, sama sekali tidak berhasil mematahkan semua keinginannya. Tatkala kaisar melihat keinginan dan tekad sultan yang demikian kuat untuk merealisasikan apa yang menjadi tujuannya, maka dia segera meminta bantuan dari berbagai negara dan kota-kota di Eropa, khususnya dari Paus sebagai pemimpin tertinggi Kristen Katolik. Padahal pada saat itu gereja-gereja di kekaisaran Byzantium dan secara khusus gereja Konstantinople, mengikuti aliran Kristen Ortodoks, dimana antara keduanya terjadi permusuhan yang demikian sengit. Kaisar terpaksa bermanis muka terhadap Paus, agar dia bisa mendekatinya. Dia pura-pura menyatakan siap untuk menyatukan gereja Ortodoks yang berada di Timur ( Byzantium ) agar tunduk dibawah kekuasaan Paus. Padahal kalangan Ortodoks tidak menginginkan hal itu terjadi. Atas dasar permintaan ini, maka Paus segera mengirim utusannya ke Konstantinople dan dia berkhutbah di gereja Aya Sophia. Lalu dia berdoa untuk Paus dan mendeklarasikan penyatuan dua aliran ini. Hal ini menimbulkan kemarahan orang-orang Kristen Ortodoks di Konstantinople. Mereka bahkan melakukan gerakan kontra terhadap apa yang dilakukan orang-orang Katholik. Hingga diantara orang-orang Ortodoks berkata, “Lebih baik bagi saya menyaksikan sorban orang-orang Turki di wilayah Byzantium, daripada menyaksikan topi orang-orang Latin.15

Serangan

Kota Konstantinople dikelilingi lautan dari tiga sisi sekaligus, yaitu Selat Boshporus, Laut Marmarah, dan Tanduk Emas, yang dijaga dengan menggunakan rantai yang demikian besar, hingga sangat tidak memungkinkan untuk masuknya kapal kedalamnya. Disamping itu dari daratan juga dijaga dengan pagar-pagar yang sangat kokoh yang terbentang dari Laut Marmarah hingga Tanduk Emas yang hanya diselingi Sungai Likus. Diantara dua pagar, terdapat ruang kosong yang berkisar sekitar 60 kaki, sedangkan bagian dalamnya ada sekitar 40 kaki dan memiliki satu menara dengan ketinggian 60 kaki benteng setinggi 60 kaki, sedangkan pagar bagian luarnya memiliki ketinggian sekitar 25 kaki, selain tower-tower pemantau yang terpencar dan dipenuhi tentara pengawas.16

Dari segi militer, kota ini dianggap sebagai kota yang paling aman dan terlindungi, karena didalamnya ada pagar-pagar pengaman, benteng-benteng yang kuat dan perlindungan secara alami. Dengan demikian, maka sangat sulit untuk bisa diserang. Puluhan kali usaha untuk menaklukan Konstantinople dilakukan. Sebelas diantaranya dilakukan oleh pasukan Islam. Sultan Muhammad Al-Fatih mempersiapkan serangan ke Konstantinople dengan seksama dan selalu mencari tahu tentang kondisi yang sebenarnya. Dia mempersiapkan peta dan melakukan pengintaian sendiri, agar bisa menyaksikan sendiri kekokohan kota Konstantinople dan pagar-pagarnya.17

Sultan pun terus merintis jalan pembuka antara Adrianople dan Konstantinople, untuk memudahkan pengiriman meriam ke Konstantinople. Meriam-meriam besar yang dibikinnya bergerak dari Adrianople menuju Konstantinople dalam jangka waktu dua bulan, dengan penjagaan ketat pasukan Utsmani. Akhirnya, pasukan yang dipimpin langsung sultan sampai didekat Konstantinople pada hari Kamis tanggal 26 Rabbiul Awal 857 H, bertepatan dengan tanggal 6 April 1453 M. Maka berkumpullah pasukan Utsmani yang berjumlah sekitar 250.000 pasukan. Sultan Muhammad berpidato dihadapan mereka dengan berapi-api dan penuh semangat yang memicu pasukan untuk berjihad dan meminta kemenangan pada Allah atau mati syahid. Dalam khutbahnya, sultan menjelaskan arti pengorbanan dan keikhlasan dalam berperang tatkala berhadapan dengan musuh. Dia membacakan ayat-ayat Al-Qur'an yang berisi seruan jihad, sebagaimana ia juga menyebut hadits-hadits Rasulullah SAW yang mengabarkan tentang penaklukan Konstantinople dan keutamaan tentara yang membukanya serta keutamaan pimpinan pasukannya. Dia sebutkan bahwa dengan dibukanya Konstantinople berarti akan memuliakan nama Islam dan Kaum Muslimin. Pasukan Islam saat itu melakukan gempuran dengan membaca tahlil (La ilaaha Illalloh) dan takbir (Allohu Akbar) serta berdoa penuh khusyu kepada Allah SWT.18

Sedangkan ulama berbaur ditengah-tengah pasukan dan tentara Islam, berjihad bersama-sama yang berhasil mengangkat semangat dan mental asukan, sehingga setiap pasukan menunggu pertempuran itu dengan penuh kesabaran demi menjalankan kewajiban mereka.19

Pada hari berikutnya, sultan mendistibusikan pasukan daratnya di depan pagar-pagar luar Konstantinople. Pasukan tersebut dibagi menjadi tiga bagian utama, yang bisa mengepung kota itu dari semua jurusan. Sebgaimana Sultan Muhammad Al-Fatih juga membentuk pasukan cadangan dibelakang pasukan khusus itu. Dia menempatan meriam-meriam didepan pagar-pagar dan yang paling utama adalah meriam Sultan yang ditempatkan didepan pintu Thib Qabi. Disamping itu, sultan juga menempatkan satu pasukan pengintai diberbagai tempat yang tinggi dan dekat dengan kota Konstantinople untuk mengawasi keadaan. Pada saat yang sama, kapal-kapal pasukan Utsmani menyebar diperairan yang mengitari kota Konstantinople. Namun, kapal-kapal itu tidak bisa sampai ke Tanduk Emas, karena adanya rantai-rantai besar penghalang yang menghambar masuknya kapal manapun dan akan menghancurkan semua kapal yang berusaha untuk mendekat. Armada Laut Utsmani mempu menguasai Kepulauan Pangeran di Laut Marmarah.20

Pasukan Byzantium berusaha mati-matian untuk mempertahankan Konstantinople. Mereka menebar pasukannya di pagar-pagar pembatas dengan pengawalan yang ketat. Namun, pasukan Utsmani melakukan penyerbuan untuk segera merebut kota itu. Sejak hari pertama pengepungan, pertempuran langsung berkecamuk sengit antara pasukan Islam dan tentara Byzantium. Dan pintu syahid segera terbuka. Pasukan Islam mengalami kemenangan gemilang khususnya yang berada didekat pintu kota.

Peluru-peluru meriam-meriam tentara Islam diluncurkan dari berbagai arah. Suara menggelegar dari peluru tersebut, menimbulkan rasa takut yang mencekam dalam dada pasukan Byzantium. Peluru-peluru meriam tersebut berhasil menghancurkan pagar-pagar kota. Namun pasukan Byzantium mampu segera membangun kembali pagar-pagar itu.

Bantuan-bantuan Kristen dari Eropa tidak pernah berhenti. Dari Genoa datang bantuan lima kapal perang yang dipimpin komandannya bernama Gustian dengan disertai tujuh ratus pasukan sukarelawan dari berbagai negara (Kristen). Kapal-kapal mereka sampai ke Konstantinople setelah terjadi kontak senjata dengan pasukan Islam yang mengepung kota itu. Kedatangan pasukan Genoa tersebut, telah mengangkat semangat pasukan Byzantium. Gustian sendiri setelah itu diangkat sebagai panglima pasukan yang mempertahankan Kosntantinople.21

Pasukan Laut Utsmani berusaha melampui rantai-rantai besar yang dipasang pasukan Byzantium, yang merupakan sarana utama mereka untuk melindungi kota dari serangan luar. Pasukan Islam melepaskan busur-busur panahnya pada kapal-kapal Eropa dan Byzantium. Namun awalnya mereka gagal untuk merealisasikan keinginan mereka, sehingga hal itu menambah semangat tempur pasukan musuh yang sedang menjaga kota.22

Sedangkan pendeta-pendeta dan pemuka agama Kristen tidak tinggal diam. Mereka berkeliling di jalan-jalan kota dan benteng-benteng, memberi semangat pada orang-orang Kristen untuk koko dan sabar. Selain itu, mereka pun membangkitkan semangat keagamaan penduduk untuk mendatangi gereja-gereja dan untuk senantiasa berdoa pada Yesus Kristus dan Buda Maria agar menyelamatkan kota mereka. sedangkan Kaisar Constantine sendiri datang ke gereja Aya Sophia untuk tujuan ini.23

Perundingan Antara Muhammad Al-Fatih Dan Constantine

Pasukan Utsmani dengan semangat tempur yang tinggi terus menggempur kota Konstantinople yang dipimpin langsung Sultan Muhammad AL-Fatih. Sedang pada saat yang sama, pasukan Byzantium melakukan perlawanan yang gagah berani. Kaisar Byzantium berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan kota dan rakyatnya dari serangan musuh dengan berbagai cara. Maka dia pun segera mengajukan bermacam-macam tawaran kepada sultan agar mau menarik pasukannya dan sebagai penggantinya akan menyetorkan uang dan akan menyatakan ketaatan padanya dan tawaran-tawaran lainnya. Namun Sultan Muhammad Al-Fatih, alih-alih menerima tawaran itu, malah dia dengan tegas meminta kaisar menyerahkan kota Kosntantinopl;e. jika demikian, maka sultan akan memberi jaminan bahwa tidak akan ada seorang penduduk pun dan satu gereja pun yang akan diganggu.

Kandungan isi surat dilayangkan padanya adalah sebagai berikut, “Hendaklah kaisar kalian menyerahkan kota Konstantinople kepada saya. Dan saya bersumpah, bahwa tentara saya tidak akan melakukan tindakan jahat apapun pada kalian, atas jiwa dan harta kalian. Barangsiapa yang ingin tetap tinggal di kota ini, maka tetaplah dia tinggal dengan damai dan aman. Dan barangsiapa yang ingin meninggalkannya, maka tinggalkanlah dengan aman dan damai pula.24

Pengepungan terasa kurang, karena Selat Tanduk Emas masih berada ditangan pasukan Byzantium. Namun demikian, pasukan Islam terus melakukan serangan tanpa henti, dimana pasukan Inkisyariyah memperlihatkan keberaniannya yang sangat mengagumkan. Mereka mau menerjang kematian, tanpa takut akibat yang akan mereka terima dari gempuran meriam-meriam. Pada tanggal 18 April,25 meriam-meriam pasukan Utsmani mampu membuka pagar-pagar Byzantium di Lembah Likus di bagian barat pagar kota. Maka bergeraklah pasukan Utsmani dengan gagah berani untuk membuka kota melalui celah tapal batas ini, sebagaimana mereka juga berusaha menembus pagar pembatas lain dengan menaiki tangga. Namun pasukan yang menjaga kota yang dipimpin oleh Gustian dengan mati-matian mempertahankan tapal batas dan pagar pembatas ini. Maka berkecamuklah perang antara dua pasukan ini. Tapal batas itu sangat sempit. Walaupun tempat sangat sempit dan gencarnya prlawanan musuh serta suasana yang demikian gelap dan pekat, Sultan Muhammad Al-Fatih mengeluarkan perintah pada pasukan penyerbu untuk menarik diri setelah mereka mampu hati musuh sangat kecut dan dilanda rasa takut. Dan mereka diperintahkan untuk mecari kesempatan yang lain untuk kembali menyerang.26

Pada hari yang sama, sebagian armada laut Utsmani berusaha untuk menembus Tanduk Emas dengan cara menghancurkan rantai-rantai yang menghalanginya. Namun, kapal-kapal aliansi Byzantium dan Eropa ditambah dengan pasukan yang bermarkas di belakang rantai-rantai besar itu yang berada dipintu masuk Teluk, mampu menahan kapal-kapal Islam dan menghancrukan beberapa diantaranya. Dengan terpaksa, pasukan Islam kembali menarik diri setelah gagal untuk merealisasikan tujuannya.27

Pemecatan Komandan Armada Utsmani Dan Keberanian Muhammad Al-Fatih

Dua hari setelah pertempuran ini, terjadilah pertempuran selanjutnya antara armada laut Utsmani dan sebagian kapal Eropa yang berusaha mendarat di Teluk. Armada Islam berusaha sekuat tenaga mencegah kapal-kapal tersebut memasuki wilayah Teluk. Sutan Muhammad sendiri langusng mengawasi jalannya pertempuran dari pantai. Dia menulis surat kepada pimpinan armada, “Hanya ada dua pilihan untukmu, menguasi kapal-kapal itu atau menenggelamkannya. Jika tidak, maka janganlah kamu kembali pada kami dalam keadaan hidup.”28

Namun kapal-kapal Eropa berhasil sampai ketujuan dan kapal-kapal Utsmani tidak mampu menhadangnya, walaupun mereka dengan sekuat tenaga berusaha mencegahnya. Oleh sebab itulah, sultan marah besar dan segera mencopot panglima pasukan laut.29 Saat Balta Oghlmi, komandan pasukan kembali ke pusat komando, dia dipanggil menghadap sultan dan mendapat kemarahan besar, dia pun dituduh sebagai sosok pengecut. Balta sangat terpukul dengan tuduhan itu dan berkata, “Sesungguhnya saya telah berhadapan dengan kematian dengan jiwa yang kokoh, namun saya merasa sakit jika saya mati dan saya dituduh dengan tuduhan seperti ini. Saya dan pasukan saya telah bertempur dengan segala kemampuan yang kami miliki dan dengan segala kekuatan dan tipu muslihat!”, kemudian ia mengangkat sorbannya yang menutupi matanya yang terluka.30 Maka tahulah sultan tentang kondisi sebenarnya dari komadan, ia membiarkannya berlalu dan hanya mencukupkan dengan pencopotannya dari kedudukannya. Sebagai gantinya diangkatlah Hamzah Pasya.31

Buku-buku sejarah menyebutkan bawha Sultan Muhammad Al-Fatih mengawasi kelangsungan pertempuran dengan menunggang kuda. Dia masuk ke laut bersama kudanya, hingga air laut itu sebatas dada kuda. Sedangkan kedua pasukan laut yang bertempur hanya berjarak sekitar satu lemparan batu. Saat itu dia berteriak pada Balta Oghlmi, “Wahai kapten! Wahai kapten!” Dan dia mengibas-ngibaskan tangannya. Maka pasukan Utsmani mengingkatkan serangannya dan sama sekali tidak terpengaruh dengan serangn bertubi-tubi juga tidak semakin lemah.32

Kekalahan armada laut, memberikan peran besar bagi para penasihat sultan, utamanya perdana menterinya yang bernama Khalil Pasya yang selalu berusaha mempengaruhi sultan agar mengubah keputusannya untuk menguasai Konstantinople dan agar dia siap untuk damai dengan penduduknya. Tanpa harus menguasai mereka. dengan kondisi demikian, sudah saatnya untuk meninggalkan pengepungan ini. Namun sultan bertekad untuk menaklukan Konstantinople dan akan melancarkan serangan dari semua arah. Pada saat bersamaan dia berpikir serius bagaimana kapal-kapal Islam itu bisa masuk ke Tanduk Emas. Sebab dia melihat pagar-pagar pembatas yang ada disana tidak terlalu kokoh. Dengan demikian, maka pasukan Byzantium terpaksa harus menarik diri dari tempat pertahanan sisi barat kota. Dengan terpecahnya pasukan itu, akan ada peluang yang lebih besar untuk menyerang pagar pembatas setelah berkurangnya pasukan yang melindunginya.33

Kejeniusan Perang Yang Cemerlang

Sultan tampak memiliki pemikiran yang demikian cemerlang. Yakni dengan memindahkan kapal-kapal dari pangkalannya di Bayskatasy ke Tanduk Emas. Ini dilakukan dengan menarik melalui darat antara dua pelabuhan, dam usaha menjauhkannya dari Galata karena khawatir kapal-kapalnya akan mendapat serangan dari arah selatan. Jarak antara dua pelabuhan tersebut sekitar tiga mil. Tanahnya bukanlah tanah datar. Tanahnya berupa tanah rendah dan bebukitan yang belum dijamah.

Untuk itu, Sultan Muhammad Al-Fatih segera mengumpulkan komandan-komandan perang dan mengemukakan pendapatnya. Dia mengutarakan secara pasti medan perang mendatang. Ide ini ternyata mendapat sambutan yang demikian hangat dan semangat dari semua yang hadir menyatakan kekagumannya.

Mulailah Sultan Muhammad Al-Fatih merealisasikan rencananya. Dia memerintahkan agar tanah tadi itu segera didatarkan. Dakam jangka waktu yang tidak lama, tanah itu telah rata. Kemudian didatangkan kayu-kayu yang dilapisi minyak dan lemak. Setelah itu, diletakkan diatas tanah yang akan dilalui perahu, sehingga memudahkan penarikan perahu. Hal paling sulit dari proyek ini adalah pemindahan perahu-perahu itu dari bebukitan yang tinggi. Untungnya perahu-perahu Utsmani umumnya berukuran kecil dan ringan.34

Ditariklah perahu-perahu tersebut dari Selat Bosporus ke daratan dengan menggunakan kayu-kayu yang telah diberi minyak. Jarak penarikannya sekitar tiga mil. Hingga akhirnya, perahu-perahu sampai di titik yang aman dan dilabuhkan di Tanduk Emas. Malam itu, pasukan Utsmani mampu menarik lebih dari tujuh puluh perahu dan dilabuhkan di Tanduk Emas, dilakukan ditengah-tengah kelengahan musuh dan dengan cara yang tidak lazim. Upaya tersebut, diawasi sultan secara langsung dari jarak yang aman dan tidak bisa dijangkau musuh.35

Pekerjaan demikian kala itu, merupakan kerja berat dan besar, bahkan dianggap sebagai “mukjizat” yang tampak dari sebuah kecepatan berpikir dan kecepatan aksi yang menunjukkan kecerdasan otak Utsmani dan kemahiran mereka serta keinginan mereka yang demikian kuat. Tatkala orang-0rang Byzantium mengetahuinya, mereka sangat kaget. Tak seorang pun yang percaya atas apa yang telah terjadi. Namun ralita yang ada dihadapan mereka membuat mereka harus mengakui strategi yang jitu itu.

Pemandangan kapal dengan bendera-bendera yang teprancang tinggi, berjalan ditengah-tengah ladang sebagaimana gelombang sedang memecah laut. Pemdangan ini dewmikian mengejutkan dan sangat mengagumkan. Ini semua kembali pada karuni Allah dan pada semangat yang kaut dari Sultan serta kecerdasannya yang demikian luar biasa. Di samping tentunya kembali pada kecakapan para insinyur-insinyur Utsmani dan cukupnya tenaga yang melakukan rencana besar dan berat ini yang dilakukan dengan penuh semangat.

Semua ini selesai hanya dalam jangka waktu semalam. Pada subuh pagi tanggal 22 April 1453, penduduk kota yang lelap itu terbangun oleh suara takbir tentara Utsmani dan genderang perang mereka yang bertalu-talu dan nasyid-nasyid imani yang menggema36 di Tanduk Emas. Mereka dikejutkan oleh datangnya perahu-perahu Utsmani yang telah menguasai perairan itu. Kini tak ada lagi air penghalang antara pasukan Byantium yang mempertahankan Konstantinople dengan pasukan Utsmani.37

Salah seorang ahli sejarah tentang Byzantium menyatakan kekaguman berikut ini, “Kami tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar sebelumnya, sesuatu yang sangat luar biasa seperti ini. Muhammad Al-Fatih telah mengubah bumi menjadi lautan dan dia menyeberangkan kapal-kapalnya dipuncak gunung sebagai pengganti ombak-ombak. Sungguh perbuatan ini jauh melebihi apa yang dilakukan oleh Iskandar Yang Agung.38

Keputusasaan melanda penduduk Konstantinople dan menyebarlah isu dan prediksi ditengah-tengah mereka. Mereka mengatakan, “Konstantinople akan jatuh tatkala dia melihat kapal-kapal menyeberangi daratan yang kering.”39

Kehadiran kapal-kapal Utsmani di Tanduk Emas telah berperan besar dalam melemahkan semangat pasukan Byzantium yang mempertahankan Konstantinople, sehingga mereka terpaksa menarik sejumlah besar kekuatan dari perbatasan lain untuk mempertahankan pagar pembatas yang ada di Tanduk Emas, mengingat pagar pembatas ini merupakan wilayah yang paling lemah yang sebelumnya dilindungi air, sehingga mampu melindungi pagar-pagar pembatas yang lain.40

Tentara Byzantum telah berusaha beberapa kali untuk menghancurkan armada laut Utsmani di Tanduk Emas ini, hanya saja semua usaha mereka yang mati-matian itu telah ditunggu pasukan Utsmani dan mereka mampu menggagalkan rencana musuh-musuhnya.

Tentara Utsmani dengan gencar terus menyerang titik-titik pertahanan kota dan pagar-pagarnya dengan meriam dan mereka berusaha untuk memanjat pagar-pagar itu. Dan pada saat yang sama, tentara yang mempertahankan kota sibuk memperbaiki pagar-pagar yang rusak dan membalas usaha-usaha intensif pemanjatan pagar. Sementara pengepungan terus berlangsung. Inilah yang membuat mereka semakin berada dalam kesulitan, kelelahan, dan tidak tenang, serta membuat mereka berada dalam kesibukan siang malan dan sekaligus dilanda putus asa.41

Pada saat yang sama pasukan Utsmani telah menempatkan meriam-meriam khusus di dataran tinggi yang bersebelahan dengan Bosphorus dan Tanduk Emas. Ini dimaksudkan untuk menghantam kapal-kapal yang membantunya di Tanduk Emas, Bosphorus, dan perairan laut yang bersebelahan dengannya, sehingga akan menjadi penghambat gerak kapal-kapal musuh dan akan mengakibatkan kelumpuhan secara keseluruhan.42

Pertemuan Constantine Dengan Para Pembantunya

Kaisar Constantine mengumpulkan para pembantunya, penasihat-penasihatnya, dan para pemuka Kristen dalam pertemuan mendadak di dalam kota. Semua yang hadir, menasihati Constantine agar dia sendiri keluar kota itu dan segera meminta bantuan pada kaum Kristen dan negara-negara Eropa. Semoga saja bala bantuan segera datang dan bisa memaksa Muhammad Al-Fatih meninggalkan pengepungan kota mereka. Namun dia menolak saran ini dan bertekad melawan tentara Utsmani untuk terakhir kalinya, dia pun tidak akan pernah meninggalkan rakyatnya hingga nasibnya dan nasib mereka dalam kondisi yang sama. Baginya, sikap demikian dianggap sebagai kewajiban kudus. Oleh karena itu, dia memerintahkan pihak yang hadir agar tidak menasihatinya untuk keluat Konstantinople. Dia hanya mencukupkan dengan mengirim utusan keberbagai pelosok Eropa untuk meminta bantuan.43 Utusan-utusan yang dia kirim pulang dengan kegagalan, sebab mata-mata pasukan Utsmani mampu mendeteksi apa yang sedang berkembang di Konstantinople.

Perang Urat Syaraf

Sultan Muhammad Al-Fatih melipatgandakan serangan pada tapal batas dan dia fokuskan serangan sesuai rencana yang dia gariskan untuk melemahkan musuh. Pasukan Utsmani melakukan serangan berkali-kali pada pagar pembatas dan selalu berusaha untuk memanjatnya. Semua itu mereka lakukan dengan penuh kesatria dan keberanian yang paling menggetarkan tentara Byzantium adalah teriakan mereka memecah langit dimana mereka meneriakkan kalimat Allohu Akbar….Allohu Akbar…. Teriakan ini laksana petir yang memekakkan.44

Sultan Muhammad Al-Fatih mulai menempatkan meriam-meriam besar di dataran-dataran tinggi, yang berada di belakang Galata. Meriam-meriam itu mulai menyemburkan peluru-pelurunya dengan intensif ke pelabuhan. Salah satu peluru meriam itu tepat mengenai kapal dagang dan langsung tenggelam. Maka kapal-kapal lain segera dilanda ketakutan dan melarikan diri dengan menjadikan pagar-pagar pembatas Galata sebagai tempat berlindung. Seperti itu serangan darat pasukan Utsmani terus berlanjut dalam serangan yang bergelombang dan sangat cepat. Sultan Muhammad Al-Fatih sendiri melakukan serangan dengan menggunakan meriam, baik di darat maupun di laut siang malam tanpa henti, dengan tujuan melumpuhkan kekuatan pasukan yang dikepung dan agar mereka tidak bisa menarik nafas ketenangan. Demikianlah yang terjadi, sehingga semangat bertempur mereka menjadi lemah dan jiwa mereka terasa lumer, otot-otot mereka menjadi lunglai dan mereka berteriak tanpa ada sebab yang pasti. Maka setiap prajurit melihat pada wajah temannya yang ditandai dengan perasaan hina tak berdaya dan kegagalan. Mereka secara terbuka membicarakan, bagaimana caranya menyelamatkan diri dan jiwa mereka, lantas apa yang akan mereka lakukan pasukan Utsmani jika mereka berhasil menaklukkan kota mereka.

Kaisar Constantine terpaksa melakukan pertemuan kedua. Dalam pertemuan itu, salah seorang komandan mengusulkan untuk melakukan serangan gencar terhadap pasukan Utsmani dengan membuka perbatasan yang bisa mengantarkan mereka ke dunia luar. Tatkala mereka sedang memperbincangkan usulan ini, tiba-tiba salah seorang prajurit masuk dan memotong pertemuan mereka. Dia memberitahukan bahwa pasukan Utsmani tengah melakukan serangan yang sangat sengit ke Lembah Likus. Mendengar demikian, Constantine segera meninggalkan tempat pertemuan, lalu menaiki kudanya. Dia kemudian memanggil pasukan cadangan dan bersama mereka maju ke medan perang. Pertempuran berlangsung hingga akhir malam, hingga akhirnya pasukan Utsmani menarik pasukannya.45

Sultan Muhammad Al-Fatih mengejutkan musuhnya dari waktu ke waktu dengan seni serangan yang selalu berbeda dari segi perang dan pengepungan, yaitu perang urat syaraf. Seni perang yang dia lakukan, merupakan inovasi baru yang belum dikenal sebelumnya.46

Pada fase pengepungan berikutnya, tentara Utsmani melakukan terobosan baru dalam usahanya untuk memasuki ibu kota. Mereka menggali terowongan bawah tanah dari tempat yang berbeda hingga ke dalam kota. Penduduk kota mengengar dentuman hebat dari bawah tanah yang terus merambah mendekat menuju kota. Maka kaisar disertai para komandan perang dan penasihatnya segera mendekati tempat datangnya suara. Tahulah mereka, bahwa tentara Utsmani sedang menggali terowongan bawah tanah untuk sampai ke ibu kota. Maka pasukan yang mempertahankan kota, segera mengambil keputusan untuk melakukan penggalian terowongan yang sama yang berhadapan dengan terowongan para penyerang untuk menghadapi mereka tanpa diketahui mereka. tatkala tentara Utsmani sampai ke terowongan yang telah mereka siapkan, tentara Utsmani mengira mereka telah sampai pada sebuah jalan tembus yang akan mengantarkan mereka menuju kota, sehingga mereka demikian gembira. Namun kegembiraan ini tidak berlangsung lama. Sebab tentara Utsmani dikejutkan oleh kobaran api dan bahan-bahan bakar. Sebagian mereka ada yang mati sesak nafas, ada pula yang mati terbakar, dan sisanya yang selamat kembali ke tempat dari mana mereka datang.47

Namun kegagalan ini tidak menyurutkan tekad tentara Utsmani. Mereka kembali menggali terowongan lain dan ditempat yang beragam di wilyah yang memanjang antara Akra Prabu dan pinggiran pantai Tanduk Emas. Tempat tersebut sangat cocok untuk pekerjaan seperti ini. Mereka terus melakukannya hingga akhir hari pengepungan. Operasi ini telah menimbulkan ketakutan demikian hebat dikalangan penduduk kota Konstantinople. Ketakutan yang tidak bisa digambarkan. Sehingga mereka mengira, bahwa suara langkah kaki mereka pada saat mereka berjalan disangka sebagai suara halus dari penggalian terowongan yang dilakukan pasukan Utsmani. Bahkan banyak diantara mereka yang membayangkan bahwa bumi akan merekah dan darinya akan keluar tentara Utsmani untuk memenuhi ibu kota. Setiap berjalan, mereka selalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Mereka selalu menuding kesana kemari dipenuhi ketakutan dengan mengatakan, “Ini dia orang Turki …. ini orang Turki …” Mereka melarikan diri dari bayangan yang mereka kira mengusir mereka. yang banyak terjadi adalah masyarakat membawa satu rumor yang kemudian mereka anggap sebagai sesuatu yang benar yang terjadi didepan mata mereka. demikianlah rasa takut melanda penduduk kota Konstantinople hingga menghilangkan kesadaran mereka. Sehingga membuat mereka “seakan-akan mabuk padahal mereka tidak mabuk”. Satu kelompok ada yang lari, sebagian lagi ada yang menatap langit, sebagaian yang lain mengetuk-ngetuk bumi. Ada pula sebagian yang melihat wajah yang lainnya dengan pandangan yang berlebihan dengan rasa putus asa.

Apa yang dilakukan pasukan Utsmani ini, tentulah bukan pekerjaan yang mudah. Sebab terowongan yang mereka buat telah banyak menelan korban dari kalangan mereka. ada yang syahid karena kekuarangan oksigen dan ada pula yang terbakar didalam tanah. Sebagaimana ada pula diantara mereka yang menjadi tawanan Romawi pada saat mereka berusaha untuk menunaikan kewajiban ini. Kemudian kepala mereka dipotong dan dilemparkan ke pos tentara Utsmani.48

Serangan Mendadak Tentara Utsmani

Kembali pasukan Utsmani melakukan terobosan baru dalam bertempur dengan pasukan Romawi. Yakni dengan membuat benteng dari kayu yang demikian besar yang bergerak. Benteng ini terdiri dari tiga tingkat, dengan ketinggian yang melebihi pagar-pagar pembatas ibu kota. Benteng tersebut dilapisi tameng dan kulit yang dibasahi air, dengan tujuan agar tidak mudah terbakar api. Pada setiap tingkatan benteng, disediakan sejumlah pasukan terlatih. Pasukan yang berada di bagian paling atas terdiri dari para pemanah yang bertugas memanahkan anak panah pada seriap orang yang melongokkan kepalanya diatas pagar. Ketakutan demikian mencekam dikalangan penjaga kota, tatkala gelombang pasukan Utsmani dengan bentengnya bergerak dan semakin mendekat ke pagar pembatas di pintu Rumanos. Melihat demikian, kaisar yang disertai para komandan tempurnya segera bergerak untuk menahan gerak laju benteng dan mengusirnya dari pagar kota. Sementara itu, pasukan Utsmani telah mampu mendekatkan benteng ke pagar kota. Berkecamuklah perang dahsyat antara pasukan Islam dan pasukan Kristen di pagar kota. Bahkan ada diantara pasukan Islam yang berhasil memanjat pagar dengan selamat. Constantine mengira bahwa kekalahan telah tiba, namun para pengawal kota berusaha keras menghujani benteng kayu bertingkat itu dengan api hingga akhirnya sedikit-sedikit benteng kayu terbakar. Kebakaran itu juga menimpa benteng Byzantium yang dekat dengan benteng kayu pasukan Utsmani itu. Akibatnya orang-orang yang ada didalamnya terbakar mati dan parit ditempat itu dipenuhi dengan batu dan debu.49

Peristiwa ini tidak pula mengendurkan tekad tentara Utsmani untuk menaklukkan kota. Bahkan Muhammad Al-Fatih yang mengawasi langsung peristiwa tersebut berkata, “Kita akan membuat empat buah benteng semisal itu besok!50

Pengepungan terus dilakuakn dan semakin kuat, sehingga menambah ketakutan orang-orang Byzantium yang berada didalam kota. Maka pemimpin kota mengadakan pertemuan pada tanggal 24 Mei 1453 didalam istana kekaisaran yang langsung dihadiri oleh kaisar sendiri. Pada pertemuan itu, ufuk putus asa demikian tampak pada wajah orang-orang yang berkumpul. Hingga diantara mereka ada yang mengusulkan agar kaisar segera melarikan diri, sebelum kota itu jatuh ke tangan pasukan Utsmani, sehingga dia bisa berusaha untuk meminta bantuan dan pertolongan untuk menyelamatkan dan mengembalikankannya setelah kejatuhan kotanya. Namun kaisar kembali menolak usulan tersebut, dan tak bergeming untuk tetap tinggal didalam kota serta tetap memimpin rakyatnya. Dia segera keluar untuk memeriksa pagar pembatas dan benteng pertahanan.

Rumor jatuhnya kota Konstantinople, menyebar luas di dalam kota dan sekaligus melemahkan semangat pasukan yang mempertahankannya. Salah satu berita yang paling santer beredar adalah tanggal 16 Jumadil Ula yang bertepatan dengan tanggal 24 Mei. Yaitu pada saat penduduk kota Konstantinople membawa patung Maria Sang Perawan dan mereka melakukan keliling kota dengan membawa patung tersebut. Mereka berdoa dan meminta pertolongan pada patung Maria agar menurunkan pertolongan supaya mereka bisa mengalahkan musuh-musuhnya. Tiba-tiba patung jatuh dari tangan mereka dan hancur. Mereka anggap, peristiwa ini sebagai pertanda buruk dan sekaligus pertanda bahaya. Penduduk kota juga sangat terpengaruh dengan peristiwa ini dan lebih khusus mereka yang mempertahanklan kota. Pada tanggal 26 Mei 1453, terjadilah hujan deras yang dibarengi dengan sambaran petir. Salah satu petir menyambar gereja Hagia Sofia (Aya Sopia) sehingga membuat pendeta Kristen pesimis dan murung. Dia kemudian pergi menemui kaisar dan memberitahukan apa yang terjadi, bahwa Allah telah meninggalkan mereka dan bahwa kota itu akan jatuh ketangan mujahidin Utsmani. Kaisar merasa terpukul dengan penuturan ini dan langsung pingsan.51

Sedangkan meriam-meriam tentara Utsmani tidak henti-hentinya menggempur pagar-pagar kota dan benteng-benteng pertahanannya. Sebagian besar pagar kota dan benteng-benteng itu hancur. Sementara itu, parit-parit dipenuhi puing-puing yang tidak bisa lagi dibereskan oleh para penjaga kota. Dengan demikian, kota itu menjadi sangat terbuka untuk diserang kapan saja. Namun pilihan tempatnya hingga saat itu belum ditentukan.52

Perundingan Terakhir Antara Muhammad Al-Fatih Dan Constantine

Muhammad Al-Fatih sangat yakin bahwa kota Konstantinople kini berada di ambang kejatuhannya. Walaupun demikian, dia berusaha memasuki kota itu dengan cara damai. Maka segera dia menulis surat pada Kaisar Constantine yang berisi, perminataan agar dia menyerahkan kota itu tanpa pertumpahan darah. Dia menawarkan jaminan keselamatannya dan keselamatan pengawalnya saat keluar meninggalkan kota, dan siapa saja dari penduduk itu yang menginginkan keamanan.53 Dia menjamin tidak akan terjadi pertumpahan darah di dalam kota dan mereka tidak akan mendapatkan gangguan apapun. Mereka bisa memilih tinggal di dalam kota ataupun keluar meninggalkan kota.

Tatkala surat itu sampai ke tangan Kaisar Constantine, dia segera mengumpulkan para penasihatnya dan mengutarakan masalah itu. Setelah mendengar isi surat tadi, sebagian diantara mereka cenderung untuk menyerah, namun sebagian yang lain tetap bertahan untuk mempertahankan kota hingga titik darah penghabisan. Ternyata kaisar pun lebih condong memilih pendapat yang ingin mempertahankan kota hingga titik darah penghabisan. Maka dari itu, kaisar pun menjawab surat Muhammad Al-Fatih sebagai berikut, “Sesungguhnya dia bersyukur kepada Allah jika sultan cenderung untuk menyerah dan rido untuk membayar upeti, sedangkan Konstantinople, maka saya bersumpah untuk mempertahankannya hingga nafas terakhir saya. Maka tidak ada pilihan bagi saya, kecuali mempertahankan singgasananya atau saya terkubur dibawah pagar-pagar istana.”54

Tatkala surat Constantine diterima sultan, sultan berkata, “Baiklah, sebentar lagi saya akan memiliki singgasana di Konstantinople atau saya terkubur dibawah puing-puing istana.”55

Maka setelah sultan tidak berhasil membujuk penyerahan kota dengan jalan damai, dia segera melakukan serangan yang lebih gencar an dahsyat. Khususnya dengan menggunakan puluru-peluru meriam ke dalam kota. Bahkan meriam sultan meledak karena seringnya dipergunakan, sehingga membuat orang-orang yang mengendalikannya meninggal. Diantara mereka yang meninggal, adalah insinyur Orban yang mengawasi penggunaan meriam tadi. Namun demikian, sultan memerintahkan agar meriam itu segera didinginkan dengan menggunakan minyak zaitu. Dan para ahli meriam berhasil melakukannya, sehingga lontaran peluru (meriam) sultan kembali mampu menerjang kota disamping menerjang pagar-pagar pembatas dan benteng-benteng.56

Sultan Muhammad Al-Fatih Mengadakan Pertemuan Dengan Majelis Syura

Sultan Muhammad Al-Fatih mengadakan pertemuan dengan para penasihat dan komandannya, ditambah dengan para syaikh dan ulama. Sultan Muhammad Al-Fatih meminta mereka untuk mengeluarkan pendapatnya dengan terus terang dan tanpa ragu-ragu. Maka sebagian diantara mereka menasihatinya untuk segera menarik pasukannya. Diantara yang mengusulkan seperti itu adalah Menteri Khalil Pasya. Alasannya, agar tidak terjadi pertumpahan darah dan tidak menimbulkan kemarahan Kristen Eropa, jika kaum Muslimin nantinya menguasai kota tadi serta alasan-alasan lain sebagai justifikasi penarikan mundur. Maka tak aneh, bila Khalil Pasya dicurigai membantu Byzantium dan berusaha untuk menjatuhkan kaum Muslimin.57 Sebagian yang hadir berusaha mendorong sultan untuk melanjutkan serangan ke dalam kota dan menganggap remeh Eropa dan kekuatannya. Sebagaimana mereka juga mendorong agar kemabli mengangkat semangat tentara untuk menaklukkan kota itu. Sebab dalam pandangan mereka, mundur berarti akan menghancurkan semangat jihad mereka. Diantara orang yang berpendapat demikian, adalah seorang komandan yang sangat pemberani bernama Zughanusy Pasya. Dia seorang Kristen asal Albania yang kemudian masuk Islam. Dimana dia menganggap lemah kekuatan Eropa di hadapan sultan.58

Buku-buku sejarah menyebutkan tentang sikap Zughanusy Pasya ini. Tatkala sultan menanyakan sikap dan pandangannya, dia melompat dari duduknya dan bersuara lantang dengan menggunakan bahasa Turki yang sedikit gagap, “Tidak, sekali lagi tidak wahai sultan! Saya tidak akan menerima apa yang dikatakan oleh Khalil Pasya. Kami datang kesini tidak ada tujuan lain, kecuali untuk mati dan bukan untuk pulang kembali.”

Ucapan lantang ini menimbulkan pengaruh yang dalam di dada hadirin. Dan untuk sementara tempat itu senyap. Kemudian Zughanusy Pasya melanjutkan perkataannya,

“Sesungguhnya di balik ucapan Khalil Pasya, terdapat keinginan untuk memadamkan semangat yang ada di dalam dada kalian, membunuh keberanian dan tekad kalian. Namun dia tidak akan pernah mendapatkan apa-apa, kecuali putus asa dan kerugian. Sesungguhnya tentara Alexander Agung yang berangkat dari Yunani ke India, lalu dia menguasai separuh Benua Asia yang luas, tidak lebih besar jumlahnya dari tentara kita. Maka, jika pasukannya mampu menguasai negeri-negeri yang luas itu, apakah tentara kita tidak akan mampu untuk melintasi tumpukan batu-batu yang bersusun-susun itu. Khalil Pasya telah mengatakan pada kita, bahwa negara-negara Barat akan datang pada kita untuk membalas dendam. Lalu siapa yang dia maksud dengan negara-negara Barat itu? Apakah yang dia maksud, negara-negara Latin yang kini sedang dilanda permusuhan internal, atau negara-negara di Laut Tengah (Laut Mediterania) yang tidak mampu apa-apa, kecuali hanya merampok dan mencuri? Andaikata negara-negara itu mau memberikan bantuan pada Byzantium, pastilah mereka akan mengirim pasukan dan kapal-kapal perangnya. Andaikata orang-orang Barat itu setelah kita taklukkan kota Konstantinople, beranjak untuk berperang dan mereka memerangi kita, maka apakah kita akan berpangku tangan dan tidak melakukan gerakan apa-apa? Bukankah kita memiliki tentara yang akan mempertahankan kehormatan kita?

Wahai penguasa kesultanan! Kau telah tanyakan pendapat saya, maka kini akan aku katakan pendapat saya secara terus terang. Hati kita hendaknya kokoh laksana batu karang, dan kita wajib meneruskan peperangan ini, tanpa harus dilanda sifat lemah dan kerdil. Kita telah mulai satu perkara, maka wajib bagi kita untuk menyelesaikannya. Wajib bagi kita untuk meningkatkan serangan dan wajib bagi kita untuk membuka perbatasan dan kita runtuhkan keberanian mereka. tidak apa pendapat lain yang bisa saya kemukakan selain ini…”59

Mendengar ucapan penuh semangat ini, berbinarlah muka Al-Fatih dan tampak dia sangat puas dan lega. Kemudian dia menoleh pada komandan perangnya Tharhan dan menanyakan bagaimana pendapatnya. Maka dia pun menjawab dengan tangkas, “Apa yang dikatakan Zughanusy adalah tepat dan saya sependapat dengannya, wahai sultan!”

Kemudian sultan menanyakan pada Syaikh Aaq Syamsuddin dan Maulana Al-Kurani tentang pendapat keduanya. Muhammad Al-Fatih demikian percaya kepada keduanya yang akan menyetujui apa yang dikatakan oleh Zughanus Pasya. Kedua syaikh berkata, “harus dilanjutkan dan dengan kekuatan yang Mahaagung, maka kemenangan akan segera tercapai.”60

Semangat semakin bergelora di dada orang-orang yang hadir. Sultan merasa demikian gembira dengan doa kedua syaikh untuk kemenangan tentara Utsmani. Maka dia pun tak kuasa untuk tidak mengatakan, “Siapa diantara nenek moyangku yang memiliki kekuatan seperti aku?”61

Para ulama mendukung pendapat yang menyatakan hendaknya jihad dilanjutkan sebagaimana Sultan Muhammad Al-Fatih juga demikian gembira saat mengungkapkan pendapat dan keinginannya untuk melanjutkan serangan hingga kota Konstantinople bisa ditaklukkan. Pertemuan selesai dengan diakhiri oleh seruan dari sultan, bahwa serangan umum akan terus dilakukan dengan melakukan pengepungan kota. Dia akan mengeluarkan perintah penyerangan dan pengepungan kota. Dia akan mengeluarkan perintah penyerangan dan pengepungan pada saat terbuka kesempatan yang tepat. Dan semua tentara hendaknya bersiap-siap untuk melakukan itu.62

Muhammad Al-Fatih Mengarahkan Seruannya Dan Mengawasi Sendiri Pasukannya


Pada hari Ahad tanggal 18 Jumadil Ula yang bertepatan dengan tanggal 27 Mei 1453, sultan memberikan wejangan pada pasukannya untuk khusyu , membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan shalat dan perilaku-perilaku taat pada umumnya. Dia memerintahkan agar bala tentaranya banyak berdoa dan merendahkan diri di hadapan Allah Yang Mahakuasa, dengan harapan semoha Allah memudahkan penaklukkan kota. Masalah ini tersebar luas di kalangan kaum Muslimin. Pada hari itu juga, sultan melakukan pemeriksaan langsung pada pagar-pagar pembatas kota dan dia berusaha untuk mengetahui kondisi terakhirnya. Pada saat yang sama, dia juga mencari tau sejauh mana kondisi para penjaga pagar-pagar kota diberbagai titik. Kemudian dia menentukan titik mana saja yang akan menjadi sasaran penyeberangan pasukan Utsmani. Dia memeriksa kondisi pasukannya dan memberikan semangat untuk selalu rela berkorban dalam memerangi musuh. Sebagaimana ia juga mengutus utusan ke warga Galata, yang saat itu bersikap netral untuk tidak ikut campur dalam semua hal yang akan terjadi, sebagai komitmen dari kesepakatan yang telah disetujui bersama. Dia juga berjanji akan mengganti semua kerugian yang diderita akibat perang itu. Di sore hari itu juga, tentara Utsmani menyalakan api yang demikian membumbung disekitar markas tentara. Sedangkan suara mereka menggema mengudara yang dengan tahlil dan takbir.63 Peristiwa ini membuat orang-orang Romawi berpikir bahwa api telah berkobar besar di markas pasukan Utsmani. Mereka mengira, bahwa pasukan Utsmani melakukan pesta kemenangan sebelum penyerangan. Satu hal yang menimbulkan rasa takut yang demikian besar di dalam dada pasukan Romawi. Sehari setelah iotu, yakni tanggal 28 Mei 1453, persiapan yang demikian matang dilakukan pasukan Utsmani, sedangkan meriam-meriam melemparkan granat-granat yang disertai semburan api. Sedangkan sultan melakukan aksi keliling ke semua tempat pasukan berada, sambil memberikan komando dan mengingatkan mereka untuk ikhlas, selalu berdoa, rela berkorban, dan siap untuk berjihad.64

Setiap kali Sultan Al-Fatih melewati kerumunan pasukannya, maka dia akan selalu berpidato didepan mereka, mengobarkan semangat. Dia menjelaskan bahwa dengan terbukannya kota Konstantinople, berarti bahwa mereka akan mendapatkan kemuliaan yang abadi dan pahala yang berlimpah dari Allah. Saat itulah akan ditutupi tanah-tanah kota ini yang selama ini dikuasai oleh musuh-musuh kaum Muslimin. Sedangkan bagi pasukan yang pertama kali bisa menancapkan panji Islam65 di atas pagar perbatasan Konstantinople, maka dia akan mendapat ganjaran yang besar dan mendapatkan tanah yang luas.

Sedangkan para ulama dan pasukan sesepuh kaum Muslimin, berkeliling pada semua tentara sambil membacakan ayat-ayat jihad dan perang serta membacakan surat Al-Anfal. Para ulama mengingatkan kaum mujahidin tentang keutamaan mati syahid di jalan Allah dan tentang para syuhada terdahulu yang meninggal di sekitar kota Konstantinople, diantaranya adalah Abu Ayyub Al-Anshari. Mereka mengatakan pada kaum mujahidin, “Tatkala Rasulullah hijrah ke Madinah, dia singgah di rumah Abu Ayyub Al-Anshari. Sedangkan Abu Ayyub sengaja mendatangi tanah ini dan dia singgah disini.” Ucapan ini membakar semangat pasukan Islam itu dan menimbulkan gelora juang yang tinggi.66

Setelah Muhammad Al-Fatih kembali ke kemahnya, maka dia mengambil pembesar-pembesar tentara. Saat itulah dia mengeluarkan pengumuman terakhir, kemudian menyampaikan pidato sebagai berikut, “Jika penaklukkan kota Konstantinople sukses, maka sabda Rasulullah SAW telah menjadi kenyataan dan salah satu mukjizatnya telah menjadi terbukti, maka kita akan mendapatkan bagian dari apa yang telah menjadi janji dari Hadits ini, yang berupa kemualiaan dan penghargaan. Oleh karena itu, sampaikanlah pada para pasukan satu persatu, bahwa kemenangan besar yang akan kita capai ini, akan menambah ketinggian dan kemualiaan Islam. Untuk itu, wajib bagi setiap pasukan menjadikan ajaran-ajaran syariat selalu didepan matanya dan jangan sampai ada diantara mereka yang melanggar syariat yang mulia ini. Hendaknya mereka tidak mengusik tempat-tempat peribadatan dan gereja-gereja. Hendaknya mereka jangan mengganggu para pendeta dan orang-orang lemah dan tak berdaya yang tidak ikut dalam pertempuran.

Pada saat itu, kaisar Byzantium mengumpulkan khalayak banyak di kota Konstantinople untuk mengadakan ritual nasional ala Kristen (Ortodoks) dengan doa, ratapan, dan ketundukan di gereja-gereja yang dihadiri kaum pria, wanita, anak-anak, dan kaum tua. Dengan harapan, semoga doa-doa mereka dikabulkan sehingga kota tersebut bisa selamat dari pengepungan. Kala itu kaisar mengucapkan sebuah pidato yang sangat indah dan mempesona, yang kemudian menjadi pidato terakhirnya. Dalam pidatonya itu, dia menekankan agar rakyatnya siap untuk mempertahankan dan membela kota walaupun dia telah mati. Dia menekankan agar rakyatnya berjuang mati-matian untuk melindungi agama Kristen dari serangan kaum Muslimin Utsmani. Pidato yang dia sampaikan, menurut ahli sejarah, demikian mempesona sehingga mereka yang hadir sesenggukan terhipnotis oleh pidatonya yang indah. Kaisar juga melakukan sembahyang terakhir di gereja Aya Sopia, gereja paling kudus dalam anggapan mereka.67 Setelah itu, kaisar pergi ke istananya untuk melakukan kunjungan terakhirnya. Dia mengucapkan ucapan selamat tinggal kepada semua yang ada di istana dan meminta maaf pada semuanya. Pemandangan itu demikian mengharukan, sebagaimana yang ditulis oleh kalangan sejarawan Kristen. Salah seorang dari yang hadir berkata, “Andaikata seseorang hatinya terbuat dari kayu dan atau dari batu karang, pastilah kedua matanya akan berlinang air mata melihat pemandangan yang sangat mengharukan.68

Constantine kemudian menghadapkan wajahnya pada sebuah gambar – yang mereka anggap adalah gambar Isa Al Masih – yang tergantung di salah satu kamar. Dia kemudian rukuk dibawahnya dan melantunkan beberapa doa. Lalu dia bangkit dan memakai penutup kepala militer dan dia keluar dari istananya menjelang tengah malam bersama dengan teman, pengawal, dan sekretaris, seorang sejarawan yang bernama Franteztes. Lalu keduanya bangun melakukan pemeriksaan pasukan Kristen yang sedang mempertahankan kota. Keduanya melihat gerakan pasukan Utsmani yang demikian bersemangat, tengah siaga melakukan serangan laut dan darat. Sebelum malam menjelang, langit menurunkan hujan gerimis seakan-akan dia menyirami bumi. Maka sultan keluar dari kemahnya dan mengangkat pandangannya ke langit seraya berkata, “Allah telah memberi rahmat dan pertolongan-Nya kepada kita semua, sehingga Dia menurunkan hujan ini tepat pada waktunya. Hujan ini akan mengurangi kepulan debu dan akan mudah bagi kita untuk bergerak.”69

Pertolongan Allah Dan Kemenangan Yang Dekat

Pada jam satu pagi, hari selasa, tanggal 20 Jumadil Ula tahun 857 H, bertepatan dengan tanggal 29 Mei tahun 1453 M, serangan umum mulai dilancarkan ke kota Konstantinople setelah dikeluarkannya komando pada semua mujahidin yang menggemakan takbir. Pasukan mujahidin berangkat ke batas kota. Orang-orang Byzantium dilanda ketakutan yang sangat. Maka mereka segera menabuh lonceng-lonceng gereja dan banyak orang Kristen yang sengaja berlindung di dalam gereja. Serangan pamungkas ini dilakukan secara serentak dari segala penjuru, laut, dan darat sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Para mujahidin sama-sama merindukan mari syahid. Oleh sebab itulah, mereka maju dengan gagah berani dan semangat berkorban yang tinggi. Mereka maju menyerang musuh. Banyak diantara para mujahidin yang mati syahid.

Serangan itu sendiri dibagi ke dalam berbagai titik. Namun secara khusus serangan terbesar dipusatkan pada Lembah Likus, yang dipimpin langsung oleh Sultan Muhammad Al-Fatih sendiri. Gelombang pasukan pertama dari mujahidin menghujani benteng-benteng pertahanan Kristen dengan hujan anak panah dan meriam. Mereka berusaha keras untuk melumpuhkan pertahanan lawan. Dengan kenekatan orang-orang Byzantium dan keberanian orang-orang Islam, berjatuhanlah korban di kedua belah pihak dalam jumlah besar.70 Tatkala pasukan pertama mengalami kekalahan, Sultan Muhammad Al-Fatih telah menyiapkan pasukan lain. Maka pasukan pertama segera menarik diri dan pasukan baru maju ke medan perang. Sementara itu pasukan musuh telah dilanda keletihan. Pasukan baru itu mampu mencapai benteng-benteng pertahanan dan mereka segera memancangkan tangga-tangga untuk menembus pertahanan musuh. Namun pasukan Kristen berhasil menjungkalkan tangga-tangga itu. Pasukan Islam pun dengan mati-matian terus melakukan penyerangan, sedangkan orang-orang Kristen dengan sekuat tenaga berusaha menghadang pasukan Islam yang ingin memanjat pagar pertahanan.

Setelah berlalu dua jam dari usaha keras pasukan Islam itu, sultan mengeluarkan komando pada pasukannya untuk istirahat barang sejenak setelah mereka mampu membuat pasukan musuh kelabakan di wilayah tersebut. Pada saat yang sama, sultan mengeluarkan perintah pada pasukan ketiga untuk melakukan serangan selanjutnya ke pagar-pagar pertahanan lawan di wilayah yang sama. Musuh dikejutkan dengan munculnya gelombang pasukan baru setelah sebelumnya mereka mengira bahwa serangan telah reda dan mereka saat itu telah mengalami kekalahan. Pada sisi lain dari kalangan Islam kini muncul para mujahidin dengan darah yang masih segar dan semangat yang menyala yang sebelumnya telah dipersiapkan dan telah cukup istirahat. Disamping itu, mereka juga telah menunggu lama untuk ikut ambil bagian dalam pertempuran.71

Di lain pihak, pertempuran di laut juga berlangsung seru dan sesuai dengan yang direncanakan sehingga membuat musuh kalang kabut. Musuh telah dibuat sibuk melakukan perlawanan di banyak medan pada satu waktu sekaligus. Dan bersamaan dengan munculnya sinar pagi, para mujahidin bisa memastikan tempat-tempat musuh dengan lebih detail dan tepat. Mereka pun mulai melancarkan serangan yang lebih berlipat. Kaum muslimin demikian semangat dan mereka betul-betul menginginkan agar serangannya sukses. Namun demikian, sultan mengeluarkan perintah agar pasukan Islam menarik diri dengan tujuan untuk mengistirahatkan meriam-meriam agar bisa dioperasikan kembali, dimana meriam-meriam itu telah dipergunakan untuk menghujani benteng-benteng pertahanan musuh dengan peluru-peluru dan telah membuat mereka kelelahan serta bertempur sepanjang malam. Tatkala meriam-meriam telah mulai dingin, datanglah pasukan khusus Inkisyariyah yang dipimpin sultan. Pasukan ini menampakkan keberanian yang demikian mengagumkan dan tanpa tanding dalam pertempuran. Tiga puluh diantara mereka mampu memanjat benteng lawan yang mengejutkan pasukan musuh. Walaupun ada beberapa diantara mereka yang mati syahid, termasuk didalamnya komandan pasukan, namun peristiwa ini telah menjadi pintu pembuka untuk bisa memasuki Madinah di Thub Qabi dan mereka mampu memancangkan panji-panji Utsmani. 72

Inilah yang menambah semangat tempur pasukan Islam untuk melakukan serangan dan gempuran. Terlebih, pada saat yang sama komandan pasukan musuh, Giovanni Guistiniani, mengalami luka sangat parah sehingga memaksanya harus mundur dari medan laga.73 Peristiwa ini memberikan pengaruh yang demikian kuat di pihak musuh. Akhirnya kaisar sendiri menggantikan posisinya untuk menjadi komandan lapangan, karena Giovanni Guistiniani telah kabur melarikan diri dari medan perang dengan salah satu perahu. Kaisar dengan sekuat tenaga berusaha untuk mendorong pasukannya agar berteguh hati mempertahankan negerinya. Ini dilakukan karena dia melihat perasaan putus asa telah menggelayuti hati pasukannya untuk melakukan perlawanan. Di sisi lain pasukan Islam, dibawah pimpinan sultan sendiri berusaha sekuat tenaga untuk mempergunakan kelemahan jiwa musuh.

Pasukan Utsmani melanjutkan serangan ke kota itu dari sisi lain hingga mereka mampu memasuki pagar pertahanan dan mampu menguasai beberapa benteng dan menghantam musuh di pintu gerbang Adrianople. Disinilah panji-panji Utsmani dikibarkan. Pasukan Islam bergerak maju laksana gelombang kedalam kota Konstantinople melalui kota wilayah ini. Tatkala Constantine melihat panji-panji Utsmani berkibar diatas benteng-benteng bagian utara kota, dia yakin bahwa kini tidak mungkin lagi kota itu dipertahankan. Oleh sebab itulah, dia segera melepaskan pakaian perangnya agar tidak dikenal dan dia pun turun dari kudanya. Dia terus berperang hingga akhirnya terbunuh di medan perang.74

Tersebarnya kabar kematiannya memiliki pengaruh besar dalam meningkatkan semangat juang pasukan Utsmani dan melumerkan semangat pasukan Kristen yang sedang mempertahankan kota itu. Pasukan Utsmani mampu menguasai kota dari berbagai sudut, sedangkan pasukan Kristen melarikan diri setelah kematian komandannya. Demikianlah kaum Muslimin mampu menguasai kota Konstantinople. Disaat itulah Muhamad Al-Fatih bersama-sama pasukanya mambagi rasa gembira dan nikmatnya kemenangan atas musuh-musuh mereka. Dari pelana kudanya, sultan berkata pada para komandan lapangan dengan mengucapkan kata selamat, “Alhamdulillah, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya pada para syuhada dan melimpahkan kemuliaan pada para mujahidin, dan kebanggaan dan syukur atas bangsaku.”75

Didalam kota, terdapat beberapa kantong pertahanan yang menyebabkan syahidnya beberapa kalangan mujahidin. Kebanyakan dari penduduk kota melarikan diri kedalam gereja. Di hari itu, selasa tanggal 20 Jumadil Ula 857 H, yang bersamaan dengan tanggal 29 Mei 1453 M, tak ada yang dilakukan oleh Sultan Al-Fatih, kecuali dia berkeliling menemui pasukannya dan panglima-panglima perangnya yang selalu mengucapkan “Masya Allah”. Dan dia pun menoleh pada mereka dan berkata, “Kalian telah menjadi orang-orang yang mampu menaklukkan kota Konstantinople yang telah Rasulullah kabarkan.” Sultan mengucapkan kata selamat atas kemenangan yang telah mereka capai dan melarang mereka melakukan pembunuhan. Sebaliknya sultan memerintahkan untuk berlaku lembut pada semua manusia dan berbuat baik pada mereka. Kemudian dia turun dari kudanya dan bersujud kepada Allah di atas tanah, sebagai ungkapan syukur dan pujian serta bentuk kerendahan diri dihadapan-Nya.76

Perlakuan Sultan Al-Fatih Pada Kaum Kristen Yang Kalah Perang

Sultan Al-Fatih segera menuju ke gereja Aya Shopia, dimana disana telah berkumpul banyak orang bersama-sama dengan para rahib dan pendeta yang membacakan doa-doa atas mereka. tatkala sultan mendekati pintu gereja, orang-orang Kristen merasa sangat ketakutan. Salah seorang pendeta segera membukakan pintu untuk sultan. Sultan meminta pada pendeta untuk menenangkan orang-orang yang ada didalam gereja dan mereka supaya diperintahkan agar segera pulang kerumahnya masing-masing dengan tenang dan aman. Mendengar demikian, warga masyarakat yang bersembunyi itu pun merasa tenang. Saat itu ada beberapa pendeta yang sembunyi di lorong-lorong bawah tanah. Maka tatkala mereka menyaksikan sikap toleran Sultan Al-Fatih, mereka pun menyatakan diri masuk Islam.

Setelah itu, sultan memerintahkan untuk segera mengubah gereja menjadi masjid. Tujuannya agar pada hari jum'at depan sudah bisa dipergunakan untuk shalat jum'at. Para pekerja pun segera bekerja keras untuk melakukan renovasi. Mereka menurunkan salib-salib, berhala-berhala, dan menghapus semua gambar yang ada didalamnya. Kemudian membuat sebuah mimbar untuk khatib. Perubahan gereja menjadi masjid dibolehkan, sebab penaklukan negeri itu melalui peperangan. Sedangkan peperangan memiliki hukum sesuai dengan syariat Islam.

Sultan telah memberikan kebebasan pada kalangan Kristen untuk melakukan semua acara ritual mereka, serta memberikan kebebasan bagi mereka untuk memilih pemimpin agama yang memiliki otoritas untuk melakukan keputusan dalam masalah-masalah sipil di kalangan mereka. sebagaimana kebebasan ini juga diberikan pada para pemimpin gereja di wilayah-wilayah lain. Namun pada saat yang sama, sultan mewajibkan pada mereka untuk membayar jizyah77

Seorang sejarawan asal Inggris yang bernama Edward berusaha melakukan distorsi sejarah dalam bukunya, Sejarah Turki Utsmani , dengan cara menggambarkan penaklukan pasukan Utsmani dan Sultan Muhammad Al-Fatih dengan gambaran yang jelek. Distorsi ini lahir karena adanya kebencian dan rasa iri yang ada didalam dadanya terhadap kegemilangan penaklukkan Islam. Ensiklopedia Americana yang terbit pada tahun 1980 M, juga melakukan hal yang sama. Dimana, menampakkan kandungan kebencian Salibis yang demikian kental terhadap Islam. Ensiklopedia ini menulis, bahwa Sultan Muhammad Al-Fatih telah melakukan perbudakan terhadap orang-orang Kristen yang ada di Konstantinople. Mereka – menurut Ensiklopedia ini – digiring ke pasar-pasar budak di kota Adrianople untuk dijual di tempat tersebut.78

Realitas historis yang sesungguhnya, menyebutkan bahwa Sultan Muhammad Al-Fatih memperlakukan penduduk Konstantinople dengan cara yang ramah dan penuh rahmat. Sultan memerintahkan tentaranya untuk berlaku baik dan toleran pada tawanan perang. Bahkan dia telah menebus sejumlah tawanan dengan mempergunakan hartanya sendiri. Khususnya para pangeran yang berasal dari Yunani dan para pemuka agama Kristen. Sultan pun rajin bertatap muka dengan para uskup untuk menenangkan rasa takut yang ada didalam dada mereka. Dia memberi jaminan pada mereka, agar tidak takut-takut untuk tetap berada didalam akidah lama mereka dan melakukan syariat yang ada dalam agamanya, serta tetap beribadah di rumah-rumah ibadah mereka. Dia memerintahkan untuk melakukan pemilihan ketua uskup yang baru. Akhirnya mereka memilih Agnadius sebagai ketua uskup baru. Setelah terpilih sebagai uskup, Ignadius berangkat menuju kediaman sultan yang diiringi sejumlah uskup. Sultan Muhammad Al-Fatih menyambutnya dengan sambutan yang demikian ramah dan menghormatinya dengan penuh penghormatan. Sultan makan bersamanya dan dia berdialog dengannya dalam berbagai masalah, baik masalah keagamaan, politik, dan sosial.

Selesai pertemuan dengan sultan, persepsi Agnadius dan para uskup tentang sultan-sultan Utsmani dan orang-orang Turki berubah 180 derajat. Bukan hanya itu. Dia berubah pandangan tentang kaum Muslimin secara keseluruhan. Dia merasa berhadapan dengan seorang sultan yang demikian terdidik dan berperadaban, seorang pembawa misi dan akidah religius yang sangat kokoh dan seorang yang membawa nilai-nilai kemanusiaan yang demikian tinggi, seorang kesatria sejati. Kekaguman ini dirasakan juga oleh semua warga Romawi dari lubuk hati mereka yang paling dalam. Sebab, mereka sebelumnya membayangkan akan ada pembunuhan masal terhadap mereka oleh pasukan Utsmani. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Hanya dalam hitungan hari, penduduk Konstantinople telah melakukan kegiatan sehari-hari sebagaimana biasa. Dalam kondisi tenang dan damai.79

Sesungguhnya agama Kristen yang berada dibawah pemerintahan Islam memperoleh semua hak-hak beragama mereka. Dan setiap agama memiliki pimpinan sendiri yang langsung berurusan dengan pemerintahan Sultan. Selain itu, setiap agama memiliki sekolah-sekolah dan tempat-tempat ibadah yang khusus. Sebagaimana tidak diperkenankan seorang pun untuk melakukan intervensi terhadap masalah keuangan internal mereka. mereka diberi kebebasan untuk berbicara dengan bahasa apa saja yang mereka kehendaki.80

Sultan Muhammad Al-Fatih melakukan sikap toleransi yang demikian tinggi terhadap orang-orang Kristen, didasarkan adanya dorongan untuk komitmen dengan agama Islam yang agung yang dianutnya serta dalam rangka mengikuti jejak langkah Rasulullah SAW, kemudian jejak langkah para Khulafaur Rasyidin setelah Rasulullah, dimana lembaran-lembaran sejarah mereka penuh dengan sikap toleran dan terhadap musuh-musuhnya.81




Catatan Kaki

1.
Tarikh Khlmifah bin Khiyath , hlm 458: Tarikh Al-Thabari: 10/69; Al-Kamil , Ibnu Atsir: 6:185-186
2.Qiyam Al-Dawlat Al-Utsmaniyah , hlm 46.
3.Tarikh Salathin Bani Utsman hlm 18.
4. Lihat: Al-Futuh Al-Islamiyah Abar Al-Ushur , Dr. Abdul Aziz Al-Umari, hlm 385.
5. Lihat: Tarikh Al-Dawlat Al-Utsmaniyah , Ali Hasun, hlm 42.
6. Lihat: Al-Futuh Al-Islamiyah Abar Al-Ushur , Dr. Abdul Aziz Al-Umari, hlm 385.
7. Ibid: 359.
8. Lihat: Tarikh Al-Dawlat Al-Utsmaniyah , Ali Hasun, hlm 43.
9. Tarikh Al-Dawlat Al-Aliyah Al-‘Utsmaniyah , Muhammad Farid Baek, 161.
10. Lihat: Salathin Ali-Utsman , hlm 26.
11. Lihat: Al-Futuh Al-Islamiyah ‘Abar Al-‘Ushur, 361.
12. Lihat: Muhammad Al-Fatih , Salim Ar-Rasyidi, hlm 90.
13. Lihat: Tarikh Salathin Ali Utsman , hlm 58.
14. Lihat:Muhammad Al-Fatih , Muhammad Shafwat, hlm 69.
15. Lihat : Muhammad Al-Fatih , Ar Rasyidi, hlm 89.
16. Lihat: Salatihin Ali Utsman , hlm 2; Muhammad Al-Fatih , hlm 96.
17. Lihat: Muhammad Al-Fatih , Ar-Rasyidi 89.
18. Lihat : Salathin Ali Utsman , hlm 24-25.
19. Lihat: Al-Futuh Al-Islamiyah ‘Abar Al-‘Ushur , hlm 364.
20. Lihat: Muhammad Al-Fatih , hlm 98; Al-Utsmaniyun wa Al-Balkan , hlm 89.
21. Lihat: Al-Utsmaniyun wa Al-Balkan , Dr. Ali Hasun, hlm 92.
22. Lihat: Muhammad Al-Fatih , Ar-Rasyidi, hlm 120.
23. Ibid : hlm 100.
24. Lihat: Muhammad Al-Fatih , Abdus Salam Fahmi, hlm 92.
25. Lihat: Al-Futuh Al-Islamiyah ‘Abar Al-‘Ushur , hlm 368.
26. Lihat: Muhammad Al-Fatih , Abdus Salam Fahmi, hlm 123.
27. Lihat: Al-Futuh Al-Islamiyah ‘Abar Al-Ushur , hlm 368.
28. Lihat: Muhammad Al-Fatih, Ar-Rasyidi, hlm 101.
29. Lihat: Mawaqif Hasimah , Muhammad Abdullah Anan, hlm 180.
30. Lihat: Muhammad Al-Fatih, Ar-Rasyidi, hlm 103.
31. Ibid : 103.
32. Ibid : 103.
33. Lihat: Al-Futuh Al-Islamiyah ‘Ibr Al-‘Ushur , hlm 329.
34. Lihat: Muhammad Al-Fatih , Abdus Salam Fahmi, hlm 100.
35. Lihat: Al-Futuh Al-Islamiyah ‘Abar Al-‘Ushur , hlm 370.
36. Lihat: Muhammad Al-Fatih , Abdus Salam Fahmi, hlm 102.
37. Lihat: Al-Futuh Al-Islamiyah ‘Abar Al-‘Ushur , hlm 370
38. Tarikh: Al-Dawlat Al-Utsmaniyah , Yilmaz Uzuntuna, hlm 135.
39. Lihat: Muhammad Al-Fatih , hlm 106.
40. Ibid.
41. Lihat: Al-Futuh Al-Islamiyah ‘Abar Al-‘Ushur , hlm. 371.
42. Ibid : 371.
43. Lihat: Muhamamd Al-Fatih , hlm 116.
44. Ibid : 106.
45. Lihat: Al-Sulthan Muhammad Al-Fatih , hlm 108.
46. Ibid : 108.
47. Lihat: Al_Futu Al-Islamiyyah ‘Abar Al-‘Ushur , hlm 372.
48. Lihat: Al-Sulthan Muhammad Al-Fatih , hlm 110.
49. Lihat: Muhammad Al-Fatih, Ar-Rasyidi , hlm 144.
50. Lihat: Muhammad Al-Fatih , hlm 122.
51. Lihat: Muhammad Al-Fatih , Ar-Rayidi, hlm 118.
52. Lihat: Al-Futuh Al-Islamiyyah ‘Abar Al-‘Ushur , hlm 375.
53. Lihat: Muhammad Al-Fatih , Ar-Rasyidi, hlm 119.
54. Muhammad Al-Fatih , Abdus Salam Fahmi, hlm 116.
55. Al-Futuh Al-Islamiyah ‘Abar Al-‘Ushur , 376.
56. Ibid.
57. Lihat: Fath Al-Qasthanthiniyah , Muhammad Shafwat, hlm 103.
58. Al-Futuh Al-Islamiyah ‘Abar Al-‘Ushur , 337.
59. Lihat: Muhammad Al-Fatih , Ar-Rasyidi, 122.
60. Ibid.
61.Lihat: Muhammad Al-Fatih , 122.
62. Lihat: Tarikh Al-Dawlat Al-‘Aliyyah , Muhammad Farid, hlm 164.
63. Lihat: Tarikh Salathin Alu Utsman , Yusuf Ashaf, hlm 60.
64. Lihat: Al-Futuh Al-Islamiyah ‘Ibr Al-‘Ushur , hlm 378.
65. Lihat: Muhammad Al-Fatih , hlm 125.
66. Ibid.
67. Lihat: Muhammad Al-Fatih , hlm 129.
68. Ibid , 130.
69. Ibid : 130.
70.Lihat: Al-Futuhat Al-Islamiyyah ‘Abar Al-‘Ushur , hlm 380.
71.Ibid : 381.
72.Ibid :382.
73.Lihat: Muhammad Al-Fatih , hlm 137.
74.Ibid : 139.
75.Ibid : 131.
76.Lihat: Al-Futuhat Al-Islamiyyah ‘Abar Al-‘Ushur , hlm 383.
77.Lihat: Al-Futuhat Al-Islamiyyah , 384.
78.Lihat: Jawanib Mudhiah , hlm 265.
79.Lihat: Sulthan Muhammad Al-Fatih , hlm 134-35
80.Lihat: Jawanib Mudhi'ah , hlm 283.
81.Ibid : 287.

0 Komentar